MAKALAH
KEBUDAYAAN SUKU BATAK
Diajukan untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Anthopologi Keperawatan Semester I
Disusun oleh:
Nama: Nurdyah Ayu Oktaviani
NIM : P1337420117002
Prodi : DIII Keperawatan
Semarang
Kelas : 1-A1
PRODI D III KEPERAWATAN SEMARANG
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Kebudayaan Suku Batak”.
Penulis menyadari
sepenuhnya bahwa makalah ini dapat diselesaikan berkat bimbingan dan bantuan
sejumlah pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:
- Dosen Pengampu Mata Kuliah Anthopologi Keperawatan Bapak Purnomo. SKM. M.Kes
- Kedua Orang Tua yang selalu memberikan motivasi kepada kami
- Teman-teman yang telah memberikan dukungan
Penulis sangat
menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang bersifat membangun akan sangat kami harapkan. Semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat.
Semarang,
26 September 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
|
HALAMAN JUDUL
..............................................................................
|
i
|
|
KATA PENGANTAR
...........................................................................
|
ii
|
|
DAFTAR ISI
..........................................................................................
|
iii
|
|
BAB I PENDAHULUAN
......................................................................
|
1
|
|
A. Latar
belakang .........................................................................
|
1
|
|
B. Rumusan
Masalah ...................................................................
|
2
|
|
C. Tujuan Penulisan .....................................................................
|
2
|
|
D. Manfaat Penulisan ...................................................................
|
2
|
|
BAB II
PEMBAHASAN
......................................................................
|
3
|
|
A. Sejarah
Suku Batak ..................................................................
|
3
|
|
B. Unsur-Unsur
Kebudayaan Batak ..............................................
|
3
|
|
1. Religi
.................................................................................
|
3
|
|
2. Sistem
Bahasa ....................................................................
|
7
|
|
3. Adat
istiadat dan kesenian .................................................
4. Sistem
IPTEK ....................................................................
5. Organisasi
Masyarakat ......................................................
6. Sistem
mata pencaharian ...................................................
7. Ilmu
Pengetahuan .............................................................
8. Masakan
Suku Batak ........................................................
|
10
38
39
41
44
44
|
|
BAB III PENUTUP................................................................................
|
48
|
|
1.
Simpulan ..................................................................................
|
48
|
|
2.
Saran ........................................................................................
|
48
|
|
DAFTAR
PUSTAKA .…………………………………....…………….
|
49
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Adat adalah bagian dari
pada kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau suku bangsa maka
adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau dengan
kata lain bahwa adat lah yang menonjol didalam mempelajari atau mengetahui
kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain tidak kalah penting nya
seperti kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan lain-lain.
Dalam mata kuliah
Antropologi ini, saya memperoleh bagian untuk menjelaskan tentang suku batak,
dari adat istiadat, agama, bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi, sistem
kemasyarakatan dan mata pencarian.
Batak adalah nama
sebuah suku bangsa di Indonesia. Suku ini kebanyakan bermukim di Sumatra Utara.
Sebagian orang Batak beragama Kristen dan sebagian lagi beragama Islam. Tetapi
dan ada pula yang menganut agama Malim (pengikutnya biasa disebut dengan
Parmalim) dan juga penganut kepercayaan animisme (disebut Pelebegu atau
Parbegu).
Sejarah Kerajaan Batak didirikan oleh seorang Raja dalam negeri Toba
sila-silahi (silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku
Pohan.Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian yang bernama Alang Pardoksi
(Pardosi).Masa kejayaan kerajaan Batak dipimpin oleh raja yang bernama.Sultan
Maharaja Bongsu pada tahun 1054 Hijriyah berhasil memakmurkan negerinya dengan
berbagai kebijakan politiknya.
Suku bangsa Batak dari Pulau Sumatra Utara. Daerah asal kediaman orang
Batak dikenal dengan Daratan Tinggi Karo, Kangkat Hulu, Deli Hulu, Serdang
Hulu, Simalungun, Toba, Mandailing dan Tapanuli Tengah. Daerah ini dilalui oleh
rangkaian Bukit Barisan di daerah Sumatra Utara dan terdapat sebuah danau besar
dengan nama Danau Toba yang menjadi orang Batak. Dilihat dari wilayah
administrative, mereka mendiami wilayah beberapa Kabupaten atau bagaian dari
wilayah Sumatra Utara. Yaitu Kabupaten Karo, Simalungun, Dairi, Tapanuli Utara,
dan Asahan.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, kami akan membahas
unsur-unsur kebudayaan suku Batak diantaranya:
1.
Bagaimana sejarah Batak?
2.
Apa yang terdapat pada unsur-unsur kebudayaan
Batak?
C.
Tujuan
Dari rumusan masalah
diatas kami mempunyai tujuan:
1.
Untuk mengetahui sejarah suku batak.
2.
Untuk mengetahui unsur-unsur yang
terdapat pada kebudayaan Batak.
D.
Manfaat
Masalah
Manfaatnya adalah sebagai informasi
bagi masyarakat Indonesia tentang suku-suku yang ada di Indonesia terutama pada
Suku Batak
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Suku Batak
Batak merupakan satu
istilah yang digunakan untuk kumpulan suku yang terdapat di daratan tertinggi
di Sumatera Utara, Suku Batak berasal dari keturunan Raja Batak. Suku batak
termasuk suku bangsa melayu tua yang berasal dari indocina atau hindia
belakang, nenek moyang orang batak berasal dari utara berpindah ke Filipina dan
berpindah lagi ke Sulewesi Selatan, berlayar hingga akhirnya menetap di
pelabuhan barus, kemudian bergeser ke pedalaman dan menetap dikaki gunung pusuk
buhit, di tepi pulau samosir, tempat asal usul peradaban suku batak.
Keturunan suku batak
berasal dari hindia muka (india), pindah ke burma, kemudian ke tanah genting
Kera di Utara Malaysia. Berlayar sampai ke tanjung balai batubara dan di
pangkalan brandan atau kuala simpang di aceh dari sana naik ke pedalaman danau
toba. Suku batak termasuk dalam rumpun proto-melayu yang berasal dari Asia
selatan yakni dari burmayang berlayar sampai malaysia, menyeberang dan menghuni
daerah sekitar danau toba.
B.
Unsur-Unsur Kebudayaan Batak
1. Religi
a)
Kepercayaan Asli Suku Batak
Kepercayaan
yang dianut suku batak sebelum mengenal agama protestan dan islam adalah
kepercayaan bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debata Mula Jadi
Na Bolon dan bertempat tinggal diatas langit, bahkan pada masyarakat daerah
pedesaan belum meninggalkan kepercayaan tercebut. mereka mempunyai system
kepercayaan dan religi tentang Mulajadi Nabolon yang memiliki kekuasaan diatas
langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu.
Menyangkut
jiwa dan roh, suku Batak Toba mengenal tiga konsep, yaitu :
1. Debata
Mula Jadi Na Bolon : bertempat tinggal diatas langit dan merupakan maha
pencipta;
2.
Siloan Na Bolon : berkedudukan sebagai
penguasa dunia makhluk halus. Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa.
Orang Batak mengenal
tiga konsep yaitu :
a.
Tondi (adalah jiwa atau roh seseorang
yang merupakan kekuatan, oleh karena itu tondi memberi nyawa kepada manusia.
Tondi di dapat sejak seseorang di dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan
badan seseorang, maka orang tersebut akan sakit atau meninggal, maka
diadakan upacara mangalap (menjemput) tondi dari sombaon yang menawannya.
b.
Jiwa
c.
Roh
3.
Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang
dimiliki seseorang, semua orang memiliki tondi,tetapi tidak semua orang
memiliki sahala. Sahala sama dengan sumanta, tuah atau kesaktian yang dimiliki
para raja atau hula-hula.
4.
Begu : tondinya orang yang sudah mati,
yang tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia, hanya muncul pada waktu
malam. Orang batak juga percaya akan kekuatan sihir dari jimat yang disebut
tongkal.
b)
Parmalim
Istilah
Parmalim merujuk kepada penganut agama Malim. Agama Malim yang dalam
bahasa Batak disebut Ugamo Malim adalah bentuk moderen agama asli suku Batak.
Agama asli Batak tidak memiliki nama sendiri, tetapi pada penghujung abad
kesembilan belas muncul sebuah gerakan anti kolonial. Pemimpin utama mereka
adalah Guru Somalaing Pardede. Agama Malim pada hakikatnya merupakan agama asli
Batak, namun terdapat pengaruh agama Kristen, terutama Katolik, dan juga
pengaruh agama Islam.
Agama
ini tidak mengenal Surga atau sejenisnya, sepeti agama umumnya, selain Debata
Mula jadi Na Bolon (Tuhan YME) dan Arwah-arwah leluhur, belum ada ajaran yang
pasti reward atau punisnhment atas perbuatan baik atau jahat, selain mendapat
berkat atau dikutuk menjadi miskin dan tidak punya turunan. Tujuan upacara
agama ini memohon berkat Sumangot dari Debata Mula jadi Na bolon (Tuhan YME),
dari Arwah-arwah leluhur, juga dari Tokoh-tokoh adat atau kerabat-kerabat adat
yang dihormati, seperti Kaum Hula-hula (dari sesamanya). Agama ini lebih
condong ke paham Animisme. Agama ini bersifat tertutup, masih hanya untuk suku
Batak, karena upacara ritualnya memakai bahasa Batak, dan setiap orang harus
punya marga, tidak beda dengan agama-agama suku-suku animisme dibelahan bumi
lainnya, sifatnya tidak universal.
Tuhan
dalam kepercayaan Malim adalah "Debata Mula Jadi Na Bolon" (Tuhan
YME) sebagai pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta yang
disembah oleh "Umat Ugamo Malim" ("Parmalim"). Agama Malim
terutama dianut oleh suku Batak Toba di provinsi Sumatera Utara. Sejak dahulu
kala terdapat beberapa kelompok Parmalim namun kelompok terbesar adalah
kelompok Malim yang berpusat di Huta Tinggi, Kecamatan Lagu Boti, Kab. Toba
Samosir. Hari Raya utama Parmalim disebut Si Pahasada (yaitu '[bulan] Pertama')
serta Si Pahalima (yaitu '[bulan] Kelima) yang secara meriah dirayakan di
kompleks Parmalim di Huta Tinggi.
c) Masuknya
Agama Islam Di Tanah Batak
Pada
abad 19 agama Islam masuk daerah penyebarannya meliputi batak selatan.
Masyarakat Batak tidak pernah mengenal Islam sebelum disebarkan oleh para
pedagang Minangkabau. Bersamaan dengan usaha dagangnya, banyak pedagang
Minangkabau yang melakukan menikah dengan perempuan Batak. Hal ini secara
perlahan telah meningkatkan pemeluk Islam di tengah-tengah masyarakat Batak.
Pada masa perang Paderi di awal abad ke-19, pasukan Minangkabau menyerang tanah
Batak dan melakukan pengislaman besar-besaran atas masyarakat Mandailing dan
Angkola. Namun penyerangan Paderi atas tanah Toba, tidak dapat mengislamkan masyarakat
tersebut, yang pada akhirnya mereka menganut agama Kristen Protestan. Kerajaan
Aceh di utara, juga banyak berperan dalam mengislamkan masyarakat Karo dan
Pakpak. Sementara Simalungun banyak terkena pengaruh Islam dari masyarakat
Melayu di pesisir Sumatera Timur.
d) Misionaris
Kristen
Agama
Kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebarannya meliputi batak utara.
Pada tahun 1824, dua misionaris baptis asal Inggris, Richard Burton dan
Nathaniel Ward berjalan kaki dari Sibolga menuju pedalaman Batak. Setelah tiga
hari berjalan, mereka sampai di dataran tinggi Silindung dan menetap selama dua
minggu di pedalaman. Dari penjelajahan ini, mereka melakukan observasi dan
pengamatan langsung atas kehidupan masyarakat Batak. Pada tahun 1834 kegiatan
ini diikuti oleh Henry Lyman dan Samuel Manson dari dewan komisaris Amerika
untuk misi luar negeri.
Pada tahun 1850, dewan Injil Belanda menugaskan Herman Neubronner Van Der Tuuk
untuk menerbitkan buku tata bahasa dan kamus bahasa Batak-Belanda. Hal ini bertujuan
untuk memudahkan misi-misi kelompok Kristen Belanda dan Jerman berbicara dengan
masyarakat Toba dan Simalungun yang menjadi sasaran pengkristenan mereka.
Misionaris pertama asal Jerman tiba di lembah sekitar Danau Toba pada tahun
1861 dan sebuah misi pengkristenan dijalankan pada tahun 1881 oleh Dr. Ludwig
Ingwer Nommensen. Kitab Perjanjian Baru untuk pertama kalinya diterjemahkan ke
bahasa Batak Toba oleh Nommensen pada tahun 1869 dan penerjemahan Kitab
Perjanjian Lama diselesaikan oleh P.H. Johannsen pada tahun 1891. Teks
terjemahan tersebut dicetak dalam huruf latin di Medan pada tahun1893. Menurut
H.O. Voorma, terjemahan ini tidak mudah dibaca, agak kaku dan terdengar aneh
dalam bahasa Batak.
Masyarakat Toba dan Karo menyerap agama Kristen dengan cepat dan pada awal abad
ke-20 telah menjadikan Kristen sebagai identitas budaya. Pada masa ini
merupakan periode kebangkitan kolonialisme Hindia-Belanda, dimana banyak orang
Batak sudah tidak melakukan perlawanan lagi dengan pemerintahan colonial.
Perlawanan secara gerilya yang dilakukan oleh orang-orang Batak Toba berakhir
pada tahun 1907, setelah pemimpin kharismatik mereka, Sisingamangaraja XII
wafat.
e) Gereja
HKBP
Gereja
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) telah berdiri di Balige pada bulan
September 1917. Pada akhir tahun 1920-an, sebuah sekolah perawat memberikan
pelatihan keperawatan kepada bidan-bidan disana. Kemudian pada tahun 1941.
Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) didirikan.
2.
Sistem bahasa
Dalam kehidupan
dan pergaulan sehari-hari, orang batak menggunakan beberapa logat, ialah :
logat karo (yang dipakai oleh orang Karo), logat pakpak (yang dipakai oleh
Pakpak), logat simalungun (yang dipakai oleh Simalungun), logat toba ( Yang
dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing).
a.
Aksara Suku Batak
Orang Batak
adalah salah satu suku dari sedikit suku di Indonesia yang memiliki aksara
sendiri yaitu aksara Batak. Walaupun masing-masing sub suku Batak juga memiliki
jenis huruf yang berbeda-beda akan tetapi kemiripan masing-masing huruf
tersebut masih dapat dimengerti oleh masing-masing sub suku lainnya. Bahasa
yang digunakan oleh masyarakat Batak juga mememiliki kemiripan antara satu sub
suku dengan sub suku lainnya. Sehingga tidak mengherankan apabila satu orang
Batak dapat menguasai beberapa jenis bahasa Batak sekaligus. Dari struktur
penyusunan dan pengucapan bahasa, terdapat 2(dua) kelompok utama: bahasa Toba
serta logat Angkola dan Mandailing yang serumpun (kelompok bahasa selatan);
bahasa Karo, bersama logat Dairi dan Pakpak yang serumpun(kelompok bahasa
utara). Sedangkan bahasa yang dipakai di Simalungun merupakan perpaduan kedua
kelompok bahasa tersebut di atas. Dari keenam sub suku yang ada bahasa Batak
Toba adalah bahasa yang paling banyak digunakan. Dalam beberapa hasil penelitian
disebutkan bahwa bahasa maupun tulisan aksara Batak banyak mendapat pengaruh
dari India yaitu bahasa Sanskerta. Pengaruh tersebut diyakini masuk melalui
kebudayaan Hindu Jawa atau Hindu Sumatera. Sebagai contoh dalam bahasa Batak
Toba, purba diartikan sebagai arah mata angin utara demikian halnya dalam
bahasa sansekerta India. Entah dimana letak kebenarannya, apakah orang Batak
adalah penerus dari orang India yang bermigarasi ke Tano Toba atau sebaliknya,
saat ini belum ada kesimpulan yang pasti untuk itu.
Aksara Batak
Toba terbagi atas dua bagian besar yaitu suku kata dasar yang dibentuk oleh
penggalan suku-suku kata yang diakhiri dengan huruf vokal a, misalnya ha, ka,
ba, pa, dll. Kelompok huruf seperti ini dikenal sebagai ina ni surat atau indung
surat. Kelompok huruf lainya disebut sebagai anak ni surat yaitu imbuhan yang
membentuk penggalan suku kata gabungan yang tidak terdapat pada suku kata dasar
seperti e, i, u, o, eng, ing, ang, ung, ong,dll. Dalam penulisan aksara Batak
Toba terdapat aturan-aturan yang menggabungkan antara ina ni surat dan anak ni
surat sehingga membentuk sebuah kata dan kalimat yang memiliki arti. Secara
umum pembagian ini juga ada dalam aksara sub suku Batak lainnya.
Dalam bidang
satra, dapat ditemukan beberapa jenis hasil karya sastra yang berkembang dalam
masyarakat Batak Toba, diantaranya adalah mitos, sajak, mantera-mantera, doa
dukun (tonggo-tonggo),pantun nasihat/umpasa-umpasa, senandung/ andung-andung
serta teka-taki/huling-hulingan atau hutinsa serta beragam turi-turian/ cerita
rakyat. Dari sekian banyak mitos dan turi-turian/ cerita rakyat yang berkembang
di masyarakat, kisah yang paling banyak dikenal adalah kisah penciptaan manusia
pertama yang diyakini berasal dari turunan Debata Mulajadi Na Bolon. Dikisahkan
Debata Mulajadi Na Bolon adalah dewa tertinggi dalam mitologi Batak. Bersama
dengan dewa-dewi lainnya ia menciptakan tiga tingkat dunia yaitu Banua Ginjang,
Banua Tonga, dan Banua Toru. Istrinya yang bernama Manuk Patiaraja melahirkan
tiga butir telur yang kemudian menetas menjadi 3 orang anak Debata Mulajadi Na
Bolon yaitu Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan. Batara Guru berkedudukan
di Banua Ginjang. Soripada berkedudukan di Banua Tonga dan Mangala Bulan
berkedudukan di Banua Toru. Ketiganya dikenal sebagai kesatuan dengan nama
Debata Sitolu Sada (Tiga Dewa Dalam Satu) atau Debata Na Tolu (Tiga Dewata).
Dikisahkan pula Debata Mulajadi Na Bolon kemudian mengirimkan putrinya Tapionda
ke bumi tepatnya ke kaki Gunung Pusuk Buhit. Tapionda kemudian menjadi ibu raja
yang pertama di tanah Batak yaitu si Raja Batak. Ini adalah salah satu mitos
yang dipercayai oleh orang Batak dari sekian banyak mitos yang diturunkan oleh
nenek moyang orang Batak kepada para penerusnya.
Seperti
yang sudah dijelaskan sebelumnya, kata atau istilah debata berasal dari bahasa
Sansekerta (India) yang mengalami penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek
Batak tidak mengenal huruf c, y, dan w sehingga dewata berubah menjadi debata
atau nama Carles dipanggil Sarles, hancit (sakit) dipanggil menjadi hansit.
Dari
pengamatan penulis, setiap kata atau istilah Sansekerta yang memiliki huruf w,
kalau masuk ke dalam Bahasa Batak akan diganti menjadi huruf b, atau huruf yang
lain.
Istilah-istilah Sansekerta
yang diserap dalam bahasa Batak:
T Purwa
; Prba ; Timur
T
Wajawia ; Manabia ; Barat Laut
T
Wamsa ; Bangso ; Bangsa
T
Pratiwi ; Portibi ; Pertiwi
T
Swara ; Soara ; Suara
T
Swarga ; Surgo ; Surga
T
Tiwra ; Simbora ; Perak
b.
Salam Khas Batak
Tiap
puak Batak memiliki salam khasnya masing masing. Meskipun suku Batak terkenal
dengan salam Horasnya, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di
masyarakat yakni Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki
penyebutan masing- masing berdasarkan puak yang menggunakannya.
Berikut ini beberapa contoh salam
khas Batak:
1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta
Karina!”
2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita
Saluhutna!”
4. Simalungun “Horas banta
Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
5. Mandailing dan Angkola “Horas
Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”
3.
Adat istiadat dan kesenian
a.
Adat
Adat
adalah bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau
suku bangsa maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi
perhatian, atau dengan katalain bahwa adat lah yang menonjol didalam
mempelajari atau mengetahui kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek
lain tidak kalah penting nya seperti kepercayaan, keseniaan,kesusasteraan dan
lain-lain.
Dahulu
kala keseluruhan aspek kehidupan orang Batak diatur oleh dan didalam
adat.Gunanyaialah untuk menciptakan keterarturan didalam masyarakat.Kegiatan
sehari-hari didalamhubungan sesama orang Batak selalu diukur dan diatur
berdasarkan adat.
Namun
keterbukaan akan suku bangsa lain dan membawa budayanya misalnya melalui
asimilasidan akulturasi (proses percampuran dua budaya atau lebih) , dan agama
yang melarang untuk terlibat dalam adat mempengaruhi sikap pada adat dan
tradisi membuat cenderung semakingoyang. Artinya muncul sikap tidak lagi
membutuhkan adat istiadat warisan nenek moyang,meskipun masih banyak yang
mematuhi dan melaksana-kan adat bahkan dibeberapa suku Batak masih
membutuhkannya didalam pengaturan masyarakat, dan kenyataan dapat
diharapkansebagai suatu alat pemeliharaan moral.
1.
Adat Inti,adalah seluruh kehidupan yang
terjadi (in illo tempore) pada permulaan penciptaan dunia oleh Dewata Mulajadi
Na Bolon. Sifat adat ini konservatif (tidak berubah).
2. Adat
Na taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri,
persekutuanagama, maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel,
setia pada adat inti atau tradisi nenek moyang. Adat ini juga selalu akomodatif
dan lugas menerima unsur dari luar,setelah disesuaikan dengan tuntunan adat
yang asalnya dari Dewata.
3. Adat
Na niadathon, yaitu segala adat yang sama sekalibaru dan menolak adat inti dan
adat nataradat, adat na diadatkan ini merupakan adat yang menolak kepercayaan
hubungan adat denganTuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam
dll)yang dipandang sebagai adat,yang justru bertentangan dengan agama asli
Batak atau tradisi nenek moyang. (Sinaga 1983).
Berdasarkan ketiga tingkatan adat
tersebut diatas.Adat yang sekarang dilakoni orang Batak adalah Adat
tingkat kedua.Namun dibeberapa bagaian kelompok Batak sudah mendekati tingkat
ketiga.Meskipun ini terjadi sadar atau tidak sadar dilakukan.
Oleh karena itu Adat kebiasaan atau
“Adat Batak”, sesuatu yang sangat penting didalam kehidupan bermasyarakat bagi
suku Batak maka perlu dikhayati maka petuah petuah dibawah ini:
Adat do ugari,
Sinihathon ni mulajadi. Siradotan manipat ari, salaon di si ulubalang arai.Ia
adat ido ugari, Ale guru saingganon. Radotan manipat ari, Salaon di ahason.´
Artinya:
Adat ialah aturan, ditetapkan oleh Tuhan
yang dituruti sepanjang hari tampak dalamkehidupan.
Maksudnya: bahwa Adat itu adalah hukum
tidak tertulis yang di siratkan oleh Tuhan yang MahaKuasa kepada nenek moyang
terdahulu sehingga merupakan suatu ikatan bagi yang menganutnya.
Jikalau adat itu sudah merupakan hukum
maka sesuai dengan prinsip-prinsip hukum akan berlaku kepadanya, seperti
pelanggaran terhadap adat tersebut maka akan dikenakan sanksi adatkepada
sipelanggar sesuai dengan aturan main, seperti hukum acaranya.
Namun karena ada tBatak itu tidak
tertulis karena dia merupakan adat kebiasaan yang turun-temurun. Dan
keputusannya tidak tertulis atau ter arsip namun jika eksekusi telah terlaksana
akan bergulir kesegala penjuru dan diwariskan turun temurun hasil
keputusan adat sehingga terkadangmerupakan pengikat yang kuat atas keputusan
adat tersebut.yang terasa terasa sampai kini.
Jadi adat adalah aturan hukum yang mengatur
kehidupan manusia sehingga bisa menciptakanketerarturan, ketentraman dan
keharmonisan, dan adat ditrapkan didalam kehidupan sehari-hari oleh orang
Batak, terutama didalam sistem kekarabatan dengan pedoman prinsip Dalihan
Natolu,disamping aturan adat yang lain.
Adat salah satu dari budaya, dan
penguraian tentang adat sangat komplek, karena didalam semuaaspek kehidupan
bermasyarakat orang Batak selalu terikat didalam tata cara yang telah
diatur sejak nenek moyang orang Batak, oleh karena itu ukuran terhormat
suatu keluarga selalu diukur dari kemampuan keluarga tersebut
mengimplementasi-kannya (adat) didalam bermasyarakat.
Namun suatu hal yang tidak dapat
dimungkiri bahwa perilaku pelaksanaan adat (budaya) Batak sudah banyak
disusupi dengan unsur-unsur dari luar termasuk pengaruh dari Agama yang
banyak merobah pola berpikir suku bangsa Batak. Meskipun demikian pada
saat-saat situasi sulit umumnya masyarakat tradisional akan kembali pada
nilai-nilai budaya Tradisional, hal ini nampak jelas pada suku Batak, bagai
manapun ketat aturan yang dikeluarkan gereja dalam pelaksanaan adat, sadar
atau tidak sadar pelaksanaan adat tradisional dilakukan juga, seperti
margondang dengan Gondang sabangunan (bukan dengan alat musik modern).
b.
Sistem Kesenian
Seni Tari khas Suku
Batak yaitu:
1) Tari
Tor-Tor (bersifat magis)

Gambar 1 : Tari Tor-Tor
Tari Tor Tor
merupakan salah satu jenis tari yang berasal dari suku Batak di Pulau Sumatera. Sejak
sekitar abad ke-13, Tari Tor Tor sudah menjadi budaya suku Batak.
Perkiraan tersebut dikemukakan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara
1973-2010 dan pakar Tari Tor Tor. Dulunya, tradisi Tor Tor hanya ada dalam
kehidupan masyarakat suku Batak yang berada di kawasan Samosir, kawasan Toba
dan sebagian kawasan Humbang. Namun, setelah masukknya Kristen di kawasan
Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan tarian modern. Di
kawasan Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut
tumba atau juga biasa disebut Pahae do mula ni tumba.
Sebelumnya,
tarian ini biasa digunakan pada upacara ritual yang dilakukan oleh beberapa
patung yang terbuat dari batu yang sudah dimasuki roh, kemudian patung batu
tersebut akan “menari”.
Jenis Tari Tor Tor:
·
Tor Tor Pangurason yaitu tari pembersihan yang
dilaksanakan pada acara pesta besar. Namun sebelum pesta besar tersebut
dilaksanakan, lokasi yang akan digunakan untuk acara pesta besar wajib
dibersihkan dengan media jeruk purut. Ini diperuntukkan, pada saat pesta besar
berlangsung tidak ada musibah yang terjadi.
·
Tor Tor Sipitu Cawan atau disebut juga Tari Tujuh Cawan.
Tor Tor ini dilaksanakan pada acara pengangkatan raja. Tor Tor Sipitu Cawan
menceritakan 7 putri yang berasal dari khayangan yang turun ke bumi dan mandi
di Gunung Pusuk Buhit dan pada saat itu juga Pisau Tujuh Sarung (Piso Sipitu
Sasarung) datang.
·
Tor Tor Tunggal Panaluan yang
merupakan suatu budaya ritual. Kemudian ada Tor Tor Tunggal Panaluan yang
dilaksanakan pada saat upacara ritual apabila suatu desa sedang dilanda
musibah. Untuk Tor Tor ini, penari dilakukan oleh para dukun untuk mendapatkan
petunjuk dalam mengatasi musibah tersebut.
Sekarang ini
Tari Tor Tor menjadi sebuah seni budaya bukan lagi menjadi tarian yang lekat
hubungannya dengan dunia roh. Karena seiring berkembangnya zaman, Tor Tor
merupakan perangkat budaya dalam setiap kehidupan adat suku Batak.
Dalam hal
tata busana tari Tor Tor sangatlah sederhana. Seseorang yang ingin menari Tor
Tor dalam sebuah pesta yang diikuti, cukup dengan memakai ulos yang merupakan
tenunan khas Batak. Ulos yang digunakan ada dua macam, ulos untuk ikat kepala
dan ulos untuk selendang. Namun motif ulos yang akan digunakan harus sesuai
dengan pesta yang diikuti.
Selain sederhana
dalam hal busana, Tor Tor juga sederhana dalam hal gerakan. Gerakan tangan dan
kaki yang cukup terbatas merupakan salah satu ciri tarian Tor Tor Sumatera Utara. Hentakan kaki dari penari bergerak
mengikuti iringan magondangi. Magondangi sendiri terdiri dari berbagai alat
musik tradisional yaitu gondang, tagading, suling, terompet batak, ogung (doal,
panggora, oloan), sarune, odap gordang dan hesek. Sebagaimana disebutkan di
atas bahwa gerak Tor Tor Batak berbeda dalam setiap jenis musik yang
diperdengarkan dan berbeda pula gerak Tor Tor laki-laki dan gerak Tor Tor
perempuan. Menurut para pemerhati Tor Tor, bahwa Tor Tor yang dilakonkan juga
dibedakan antara Tor Tor Raja dengan Tor Tor Natorop. Sementara perangkat lain
dalam acara tortor Batak biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin
kelompok Tor Tor dan pengatur acara/juru bicara (paminta gondang), untuk yang
terakhir ini sangat dibutuhkan kemampuan untuk memahami urutan gondang dan
jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang.
2) Tari
Serampang dua belas (bersifat hiburan).
Gambar 2 : Tari serampang dua belas
Tari Serampang Dua Belas adalah salah satu tarian tradisional pergaulan
yang dimainkan oleh beberapa penari pria dan wanita secara berpasangan. Selain
kaya akan nilai seni, tarian ini juga kaya akan makna dan nilai-nilai kehidupan
di dalamnya.
·
Fungsi Dan
Makna Tari Serampang Dua Belas
Tari Serampang Dua Belas pada
dasarnya lebih difungsikan sebagai tarian pertunjukan, dimana tarian tersebut
bisa ditampilkan di acara apapun, baik acara hiburan, acara adat, maupun
budaya. Tarian ini sangat kaya akan makna serta nilai-nilai kehidupan di
dalamnya. Secara garis besar, Tari Serampang Dua Belas ini menggambarkan fase-fase
dalam percintaan sepasang kekasih, dari pertemuan hingga menuju pelaminan.
Dalam tarian tersebut tentu memiliki makna serta pesan-pesan khusus yang ingin
disampaikan, terutama dalam mencari pasangan hidup.
·
Pertunjukan
Tari Serampang Dua Belas
Seperti yang dijelaskan
sebelumnya, Tari Serampang Dua Belas ditampilkan oleh beberapa penari pria dan
wanita secara berpasangan. Untuk jumlah penari, biasanya terdiri dari 2 pasang
penari atau lebih, sesuai dengan kelompok serta acara yang akan ditampilkan.
Dalam pertunjukannya, para penari menggunakan pakaian adat khas Melayu, baik
penari pria maupun wanita. Dengan diiringi musik pengiring, mereka menari
dengan gerakannya yang khas.
Gerakan dalam Tari Serampang
Dua Belas ini cukup unik dan bervariasi. Gerakan tersebut diantaranya gerakan
berputar, melompat, berjalan kecil, memainkan sapu tangan dan lain-lain. Selain
itu dalam pertunjukan Tari Serampang Dua Belas biasanya ditampilkan dalam 12
babak utama, yang setiap babaknya menggambarkan romantisme dalam percintaan
sepasang kekasih, mulai dari pertemuan, jatuh cinta, hingga pelaminan, yang
dirangkum dalam satu pertunjukan. Selain kaya akan makna, apabila kita cermati
tarian ini juga terdapat pesan-pesan moral di dalamnya.
·
Pengiring
Tari Serampang Dua Belas
Dalam pertunjukan Tari
Serampang Dua Belas biasanya diiringi oleh alunan musik tradisional seperti kecapi,
rebana dan musik tradisional Melayu lainnya. Sedangkan untuk lagu yang
biasa digunakan untuk mengiringi tarian ini adalah lagu pulau sari.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, mulai banyak juga yang menggunakan
musik digital atau musik rekaman sebagai pengiring tarian tersebut,
karena dianggap lebih praktis dan mudah. Tapi ada juga yang masih menggunakan
musik tradisional, terutama untuk menampilkan kesan tradisional dalam tarian
ini.
·
Kostum Tari
Serampang Dua Belas
Untuk kostum yang digunakan
para penari dalam pertunjukan Tari Serampang Dua Belas, biasanya adalah busana
khas adat Melayu di pesisir pantai timur Sumatera. Untuk penari pria biasanya
menggunakan baju kemeja panjang dan celana panjang. Serta beberapa atribut
tambahan seperti peci dan kain yang dikenakan di pinggang hingga paha.
Sedangkan untuk penari wanita
biasanya menggunakan baju lengan panjang dan kain panjang di bagian bawah.
Serta berbagai atribut pemanis seperti hiasan kepala, hiasan penutup dada, dan
kain yang dikenakan di pinggang. Namun penggunaan kostum tersebut juga
disesuaikan dengan kreasi masing-masing kelompok, sehingga lebih bervariatif
namun tidak meninggalkan kesan tradisional Melayunya.
·
Perkembangan
Tari Serampang Dua Belas
Dalam perkembangannya, Tari
Serampang Dua Belas masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang.
Berbagai kreasi dan variasi juga sering ditampilkan disetiap pertunjukannya,
baik dalam segi gerak, pengiring, maupun kostum yang digunakan. Hal ini tentu
dilakukan agar terlihat menarik, namun tidak meninggalkan ciri khas dan
keasliannya.
Sebagai salah satu icon
kesenian tradisional di Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Tari Serampang Dua
Belas masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu,
perayaan hari besar dan upacara adat lainnya yang diselenggarakan di sana.
Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya, seperti
pertunjukan seni, festival budaya, dan promosi pariwisata, baik di tingkat
daerah, dalam negeri, maupun mancanegara.
3) Alat
musik khas Suku Batak yaitu: Alat Musik gondang/ Margondang
a. Margondang
Pada Masa Purba
Yang dimaksud dengan
Masa purba adalah masa dimana sebelum masuknya pengaruh agama Kristen ketanah
batak, dimana pada saat itu masih menganut aliran kepercayaan yang bersifat
polytheisme. Pada masa purba penggunaan gondang dalam konteks hiburan maupun
pertunjukan belum didapati masyarakat. Keseluruhan kegiatan di tujukan untuk
upacara adat maupun upacara religi yang bersifat sakral. Oleh karena itu
upacara margondang pada masa purba dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu :
1. Margondang
adat,
yaitu suatu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi dari
aturan-aturan yang dibiasakan dalam hubungan manusia dan manusia (hubungan
horizontal), misalnya : gondang anak tubu (upacara anak yang baru lahir),
gondang manape goar (upacara pemberian nama/ gelar boru kepada seseorang),
gondang pagolihan anak (mengawinkan anak), gondang mangompoi huta (peresmian
perkampungan baru), gondang saur matua (upacara kematian orang yang sudah
beranak cucu) dan sebagainya.

Gambar 3 : Gondang
Sembilan, alat yang dipakai saat Margondang
2. Margondang religi,
yaitu upacara yang menyertakan gondang, merupakan akualisasi dari suatu
kepercayaan tau keyakinan yang dianut dalam hubungan manusia dengan tuhan-nya
atau yang disembahnya (hubungan vertikal), misalnya : gondang saem (upacara
untuk meminta rejeki), gondang mamele, (upacara pemberian sesajen kepada roh),
gordang papurpur sapata (upacara pembersihan tubuh/ buang sial) dan sebagainya.
Walaupun upacara margondang masa
purba dibagi ke dalam dua bagian, namun hubungan dengan adat dan religi dalam
suatu upacara selalu kelihatan dengan jelas. Hal tersebut dapat dilihat dari
tata cara yang dilakukan pada setiap upacara adat yang selalu menyertakan unsur
religi dan juga sebaiknya pada setiap upacara religi yang selalu menyertakan
unsur adat. Unsur religi yang terdapat dalam upacara adat dapat dilihat dari
beberapa aspek yang mendukung upacara tersebut, misalnya : penyertaan gondang,
dimana dalam setiap pelaksanaan gondang selalu diawali dengan membuat tua ni
gondang ( memainkan inti dari gondang), yaitu semacam upacara semacam meminta
izin kepada mulajadi nabolon dan juga kepada dewa-dewa yang dianggap sebagai
pemilik gondang tersebut. Sedangkan unsur adat yang terdapat dalam upacara
religi dapat dilihat dari unsur dalihan na tolu yang selalu disertakan dalam
pada setiap upacara. Menurut Manik, bahwa pada mulanya agama dan adat etnik
Batak Toba mempunyai hubungan yang erat, sehingga tiap upacara adat sedikit
banyaknya bersifat keagamaan dan tiap upacara agama sedikit banyaknya diatur
oleh adat (1977: 69).
Walaupun hubungan dari kedua adat dan
religi selalu kelihatan jelas dalam pelaksanaan suatu upacara, perbedaaan dari
kedua upacara tersebut dapat dilihat dari tujuan utama suatu upacara
dilaksanakan. Apabila suatu upacara dilaksanakan untuk hubungan manusia yang
disembahnya, maka upacara tersebut di klasifikasikan kedalam upacara religi.
Apabila suatu upacara dilakukan untuk hubungan manusia dengan manusia, maka
upacara tersebut dapat di klasifikasikan ke dalam upacara adat.
b. Margondang
pada Zaman Sekarang
Margondang
pada masa sekarang merupakan perkembangan dari cara berpikir masyarakat setelah
pengaruh gereja sudah sangat kuat pada masyarakat Batak Toba.Dalam ajaran
Kristiani, gereja hanya mengakui satu Tuhan yang harus disembah yaitu Tuhan
Yesus Kristus, apabila ada anggota gereja masih melakukan penyembahan terhadap
roh roh nenek moyang dan kepercayaan mereka yang lama, maka orang tersebut aka
dikeluarkan dari anggota gereja tersebut. Oleh karena itu,muncul beberapa
masalah yang bersifat problematic tentang penggunaan gondang batak dalam
kegiatan adat maupun keagamaan.

Gambar
4 : Margondang pada zaman sekarang
Di
satu pihak orang Batak ingin mempraktikkan dan menghayati gondang itu menurut
visi dan tradisi yang sudah sangat mendarah daging, dilain sisi ada kelompok
yang menolak gondang untuk dipergunakan dalam upacara adat maupun keagamaan,
karena mereka melihat unsur-unsur animism pada gondang tersebut , ada ketakutan
mereka mempelajari sejarah batak dan menghidupi unsur-unsur kebudayaannya.
Ketakutan ini timbul karena adanya predikat yang kurang baik sepeti kafir,
kolot da tuduhan lain yang diberikan penganut kebudayaan tersebut. Pada bagian
yang lain ada juga kelompok agama tradisional pada masyarakat Batak Toba yang
menentang ajaran Kristen.
Konsep Margondang pada masa sekarang
dapat dibagidalam tiga bagian besar, yaitu :
a)
Margondang pesta, suatu kegiatan yang
menyertakan gondang dan merupakan suatu ungkapan kegembiraan dalam konteks
hibuan atau seni pertunjukkan, misalnya : gondang pembangunan gereja, gondang
naposo, gondang mangompoi jabu (memasuki rumah) dsb.
b)
Margondang adat, suatu kegiatan yang
menyertakan gondang, merupakan aktualisasi dari system kekerabatan dalihan na
tolu, misalnya : gondang mamampe marga (pemberian marga), gondang pangolin anak
(perkawinan), gondang saur matua (kematian), kepada orang diluar suku Batak
Toba, dsb.
c)
Margondang Religi, upacara ini pada saat
sekarang hanya dilakukan oleh organisasi agamaniah yang masih berdasar kepada
kepercayaan batak purba. Misalnya parmalim, parbaringin, parhudamdam Siraja
Batak. Konsep adat dan religi pada setiap pelaksanaan upacara oleh kelompok ini
masih mempunyai hubungan yang sangat erat karena titik tolak kepercayaan mereka
adalah mulajadi na bolon dan segala kegiatan yang berhubungan dengan adat serta
hukuman dalam kehidupan sehari-hari adalah berdasarkan tata aturan yang
dititahkan oleh Raja Sisingamangaraja XII yang diaggap sebagai wakil mulajadi
na bolon.
c.
Hasil Kebudayaan Suku Batak
1) Pakaian
Adat Suku Batak
Ulos adalah kain tenun khas Batak
berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan
persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong,
Ulos pangihot ni holong", yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah
pada batangnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.

Gambar 5 : kain ulos
Secara harfiah, ulos berarti selimut yang menghangatkan tubuh dan melindunginya
dari terpaan udara dingin. Menurut kepercayaan leluhur suku Batak ada tiga
sumber yang memberi panas kepada manusia, yaitu matahari, api dan ulos. Dari
ketiga sumber kehangatan tersebut ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan
kehidupan sehari-hari.
Dahulu nenek moyang suku Batak adalah manusia-manusia gunung, demikian sebutan
yang disematkan sejarah pada mereka. Hal ini disebabkan kebiasaan mereka
tinggal dan berladang di kawasan pegunungan. Dengan mendiami dataran tinggi
berarti mereka harus siap berperang melawan dinginnya cuaca yang menusuk
tulang. Dari sinilah sejarah ulos bermula.
Pada awalnya nenek moyang mereka mengandalkan sinar matahari dan api sebagai
tameng melawan rasa dingin. Masalah kecil timbul ketika mereka menyadari bahwa
matahari tidak bisa diperintah sesuai dengan keinginan manusia. Pada siang hari
awan dan mendung sering kali bersikap tidak bersahabat. Sedang pada malam hari
rasa dingin semakin menjadi-jadi dan api sebagai pilihan kedua ternyata tidak
begitu praktis digunakan waktu tidur karena resikonya tinggi. Al hajatu ummul
ikhtira'at, karena dipaksa oleh kebutuhan yang mendesak akhirnya nenek moyang
mereka berpikir keras mencari alternatif lain yang lebih praktis. Maka lahirlah
ulos sebagai produk budaya asli suku Batak.
Tentunya ulos tidak langsung menjadi sakral di masa-masa awal kemunculannya.
Sesuai dengan hukum alam ulos juga telah melalui proses yang cukup panjang yang
memakan waktu cukup lama, sebelum akhirnya menjadi salah satu simbol adat suku
Batak seperti sekarang. Berbeda dengan ulos yang disakralkan yang kita kenal,
dulu ulos malah dijadikan selimut atau alas tidur oleh nenek moyang suku Batak.
Tetapi ulos yang mereka gunakan kualitasnya jauh lebih tinggi, lebih tebal,
lebih lembut dan dengan motif yang sangat artistik.
Setelah mulai dikenal, ulos makin digemari karena praktis. Tidak seperti
matahari yang terkadang menyengat dan terkadang bersembunyi, tidak juga seperti
api yang bisa menimbulkan bencana, ulos bisa dibawa kemana-mana. Lambat laun
ulos menjadi kebutuhan primer, karena bisa juga dijadikan bahan pakaian yang
indah dengan motif-motif yang menarik. Ulos lalu memiliki arti lebih penting
ketika ia mulai dipakai oleh tetua-tetua adat dan para pemimpin kampung dalam
pertemuan-pertemuan adat resmi. Ditambah lagi dengan kebiasaan para leluhur
suku Batak yang selalu memilih ulos untuk dijadikan hadiah atau pemberian kepada
orang-orang yang mereka sayangi.
Kini ulos memiliki fungsi simbolik untuk berbagai hal dalam segala aspek
kehidupan orang Batak. ulos menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan adat suku Batak.
Mangulosi, adalah salah satu hal yang teramat penting dalam adat Batak.
Mangulosi secara harfiah berarti memberikan ulos. Mangulosi bukan sekadar
pemberian hadiah biasa, karena ritual ini mengandung arti yang cukup dalam.
Mangulosi melambangkan pemberian restu, curahan kasih sayang, harapan dan
kebaikan-kebaikan lainnya.
Dalam ritual mangulosi ada beberapa aturan yang harus dipatuhi, antara lain
bahwa seseorang hanya boleh mangulosi mereka yang menurut tutur atau silsilah
keturunan berada di bawah, misalnya orang tua boleh mengulosi anaknya, tetapi
anak tidak boleh mangulosi orang tuanya. Disamping itu, jenis ulos yang
diberikan harus sesuai dengan ketentuan adat. Karena setiap ulos memiliki makna
tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dan dalam upacara adat
yang bagaimana, sehingga fungsinya tidak bisa saling ditukar.
Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang "non Batak".
Pemberian ini bisa diartikan sebagai penghormatan dan kasih sayang kepada
penerima ulos. Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat negara,
selalu diiringi oleh doa dan harapan semoga dalam menjalankan tugas-tugas ia
selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang
yang dipimpinnya.
Beberapa
jenis ulos yang dikenal dalam adat Batak adalah sebagai berikut:
v Ulos
Ragidup
Ragi
berarti corak, dan Ragidup berarti lambang kehidupan. Dinamakan demikian karena
warna, lukisan serta coraknya memberi kesan seolah-olah ulos ini benar-benar
hidup. Ulos jenis ini adalah yang tertinggi kelasnya dan sangat sulit
pembuatannya. Ulos ini terdiri atas tiga bagian; dua sisi yang ditenun
sekaligus, dan satu bagian tengah yang ditenun tersendiri dengan sangat rumit.
Ulos Rangidup bisa ditemukan di setiap rumah tangga suku batak di daerah-daerah
yang masih kental adat bataknya. Karena dalam upacara adat perkawinan, ulos ini
diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin lelaki.
v Ulos
Ragihotang
Hotang
berarti rotan, ulos jenis ini juga termasuk berkelas tinggi, namun cara
pembuatannya tidak serumit ulos Ragidup. Dalam upacara kematian, ulos ini
dipakai untuk mengafani jenazah atau untuk membungkus tulang belulang dalam
upacara penguburan kedua kalinya.
v Ulos
Sibolang
Disebut
Sibolang sebab diberikan kepada orang yang berjasa dalam mabolang-bolangi (menghormati)
orang tua pengantin perempuan untuk mangulosi ayah pengantin laki-laki pada
upacara pernikahan adat batak. Dalam upacara ini biasanya orang tua pengantin
perempuan memberikan Ulos Bela yang berarti ulos menantu kepada pengantin
laki-laki.
Mengulosi menantu lelaki bermakna nasehat agar ia selalu berhati-hati dengan
teman-teman satu marga, dan paham siapa yang harus dihormati; memberi hormat
kepada semua kerabat pihak istri dan bersikap lemah lembut terhadap
keluarganya. Selain itu, ulos ini juga diberikan kepada wanita yang ditinggal
mati suaminya sebagai tanda penghormatan atas jasanya selama menjadi istri
almarhum. Pemberian ulos tersebut biasanya dilakukan pada waktu upacara
berkabung, dan dengan demikian juga dijadikan tanda bagi wanita tersebut bahwa
ia telah menjadi seorang janda. Ulos lain yang digunakan dalam upacara adat
adalah Ulos Maratur dengan motif garis-garis yang menggambarkan burung atau
banyak bintang tersusun teratur. Motif ini melambangkan harapan agar setelah
anak pertama lahir akan menyusul kelahiran anak-anak lain sebanyak burung atau
bintang yang terlukis dalam ulos tersebut.
Dari besar kecil biaya pembuatannya, ulos
dapat dibedakan menjadi dua bagian:
Pertama,
Ulos Na Met-met; ukuran panjang dan lebarnya jauh lebih
kecil daripada ulos jenis kedua. Tidak digunakan dalam upacara adat, hanya
untuk dipakai sehari-hari.
Kedua,
Ulos Na Balga; adalah ulos kelas atas. Jenis ulos ini
pada umumnya digunakan dalam upacara adat sebagai pakaian resmi atau sebagai
ulos yang diserahkan atau diterima.
Biasanya
ulos dipakai dengan cara dihadanghon; dikenakan di bahu seperti selendang
kebaya, atau diabithon; dikenakan seperti kain sarung, atau juga dengan cara
dililithon; dililitkan dikepala atau di pinggang.
Kain
ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara
kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara
Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang.
2) Rumah
Adat Suku Batak

Gambar
6 : Rumah adat suku batak
Orang
Batak memiliki pemukiman yang khas berupa desa-desa yang tertutup dan terdiri
dari kelompok-kelompok kecil. Biasanya kelompok ini adalah kumpulan marga ,
clan atau kelompok yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Tipikal desa
tertutup ini disebut huta (secara khusus bagi orang Batak Toba).
Sebagai
contoh desa tempat tinggal orang Batak Toba pada jaman dahulu dikelilingi oleh
tembok batu atau tanah (parik) yang ditanami oleh pohon bambu yang sangat rapat
sehingga hampir mustahil ditembus manusia. Saat ini masih ada beberapa
sisa-sisanya yang bisa ditemukan di beberapa desa. Jalan masuk atau access road
ke huta tersebut hanya ada satu atau maksimal dua gerbang yang disebut bahal,
yaitu bahal jolo (gerbang depan) dan bahal pudi (gerbang belakang). Dekat
dengan bahal biasanya terdapat sebuah pohon beringin (baringin) atau hariara.
Merupakan pohon kehidupan yang dipercaya sebagai perantara antara dunia tengah
dan dunia atas. Kedua pohon ini selalu terlibat dalam ritual mistis dan
acara-acara adat orang Batak Toba.
Bagi
orang Batak Toba terdapat dua jenis rumah adat yang ada di dalam suatu huta,
yaitu ruma dan sopo yang letaknya biasa saling berhadapan. Diantara kedua deret
ruma dan sopo tersebut terdapat halaman(alaman) yang luas dan digunakan sebagai
pusat kegiatan orangtua maupun anak-anak. Kedua bangunan ini, meskipun secara
sekilas kelihatan sama, sebenarnya sangat berbeda dari segi konstruksi dan
fungsi. Dari segi konstruksi, ciri-ciri yang bisa dilihat adalah bentuk tangga,
besar dan jumlah tiang, serta bentuk pintu. Konstruksi interior bangunan juga
berbeda. Dari segi fungsi, ruma adalah tempat tinggal orang Batak, sedangkan
sopo berfungsi sebagai lumbung padi, sebagai tempat pertemuan, tempat bertenun
dan menganyam tikar, dan tempat untuk muda-mudi bertemu. Sopo orang Batak Toba
pada awalnya tidak berdinding, tetapi oleh karena biaya mendirikan ruma sangat
mahal dan susah, dikemudian hari sopo ini dialihkan fungsinya menjadi rumah
tinggal dengan menambahkan dinding, pintu dan jendela.
Demikian
juga rumah adat orang Batak yang lainnya memiliki tipikal bentuk rumah dan
fungsi yang hampir sama. Namun masing-masing rumah adat tetap memiliki kekhasan
masing-masing.
Rumah
adat suku Batak Toba disebut juga ‘rumah bolon’. Rumah ini berbentuk panggung
dengan bahan utama bangunan berupa kayu. Hal yang paling menarik perhatian
adalah bentuk atapnya yang melengkung dan runcing di tiap ujungnya.
Di
balik bentuknya yang sangat unik, ternyata rumah adat suku Batak ini memiliki
makna dan arti tersendiri.Filosofi rumah adat suku batak memang sangat menarik
untuk dipelajari, mulai dari proses pembangunan rumah sampai segala dekorasi,
ternyata semuanya memiliki makna yang cukup dalam.
3) Pembangunan
Rumah Bolon
Proses
pembangunan rumah adat suku Batak selalu dilaksanakan secara gotong royong.
Bahan yang digunakan adalah bahan yang dengan kualitas baik, umumnya seorang
pande (tukang) akan memilih kayu-kayu dengan cara memukul kayu tersebut dengan
suatu alat untuk mencari bunyi kayu yang nyaring.
Pondasi
rumah adalah hal yang terpenting, dibuat dengan formasi berbentuk segi empat,
dipadu tiang dan dinding yang kuat. Makna dari pondasi ini sendiri adalah
saling bekerja sama demi memikul beban yang berat.
Untuk
bagian atas rumah, ditopang oleh sebuah tiang yang biasa disebut tiang
“ninggor” dibantu oleh kayu penopang yang lain. Tiang “ninggor” ini lurus dan
tinggi, orang suku Batak memaknainya sebagai simbol kejujuran. Untuk menjunjung
tinggi kejujuran, perlu didukung oleh rasa keadilan (disimbolkan oleh kayu
penopang pada “ninggor”).
Di
bagian depan atap terdapat “arop-arop” bermakna harapan untuk bisa hidup layak.
Lalu ada “songsong boltok” untuk menahan atap, yang punya arti bila ada
pelayanan tuan rumah yang kurang baik sebaiknya dipendam dalam hati saja.
4)
Interior Rumah Adat Suku Batak
Orang
suku Batak selalu membersihkan ruangan rumah dengan cara menyapu semua kotoran
dan mengeluarkannya lewat lubang “talaga” yang ada di dekat tungku masak. Hal
ini juga bermakna untuk membuang segala keburukan di dalam rumah, juga melupakan
kelakuan-kelakuan yang tidak baik.
Di
dalam rumah terdapat semacam rumah panggung kecil yang mirip balkon pada rumah
biasa. Tempat ini untuk menyimpan padi, bermakna pula sebagai pengharapan untuk
kelancaran rezeki.
Di
setiap rumah di bagian pintu masuk, selalu ada tangga. Bagi orang lain, bila
ada tangga rumah rusak, mungkin akan mengeluh. Tapi bagi orang Batak, bila
tangga rumah ini cepat rusak atau aus, itu malah membanggakan. Karena itu
artinya sering dipakai orang atau dikunjungi orang karena tuan rumah tersebut
adalah orang yang baik dan ramah.
v Gorga
Gorga adalah pahatan/ukiran kayu yang ada
pada rumah adat suku Batak. Hiasan ini sendiri memiliki nama-nama tersendiri
berdasarkan bentuk ukirannya :
·
Gorga simataniari (matahari) :
menggambarkan matahari yang merupakan sumber kehidupan manusia.
·
Gorga desa naualu : menggambarkan 8
penjuru mata angin yang sangat berkaitan erat dengan aktivitas ritual suku
Batak
·
Gorga singa-singa : menggambarkan tuan
rumah sebagai orang yang kuat, kokoh, pemberani dan berwibawa.
Itu
beberapa contoh nama gorga, masih cukup banyak nama gorga lainnya yang memiliki
makna tertentu. Gorga sendiri sering dilukis dengan 3 warna :
o
Merah : melambangkan kecerdasan dan
wawasan yang luas sehingga lahir kebijaksanaan.
o
Putih : melambangkan kejujuran yang
tulus sehingga lahir kesucian.
o
Hitam : melambangkan kewibawaan yang
melahirkan kepemimpinan.
Selain
terdapat Gorga rumah adat Suku Batak juga ada yang dipasangi tanduk kerbau di
pucuk atapnya. Hal ini melambangkan rumah sebagai “kerbau berdiri tegak”.
Suku
Batak menganggap rumah adat mereka sebagai kerbau yang sedang berdiri dan
dinamakan Rumah Balai Batak Toba. Bentuk rumah adat suku Batak berupa rumah
panggung.
Selain
sangat menghargai binatang kerbau, warga masyarakat Sumatera Utara sangat
mencintai gotong royong dan kebersamaan. Misalnya, pada saat membangun rumah
adat suku Batak, mereka melakukannya dengan bersama-sama.
Bagian-bagian Rumah Adat Suku Batak
Rumah adat suku Batak terdiri dari
tiga bagian yang disebut tritunggal benua, yaitu
- Atap rumah
atau benua atas yang dipercaya sebagai tempat dewa.
- Lantai
dan dinding atau benua tengah yang ditempati manusia.
- Kolong
rumah atau benua bawah yang dipercaya sebagai sebagai tempat kematian.
Pada
zaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar. Untuk masuk ke dalam
rumah harus menaiki tangga dari kolong rumah. Anak tangganya berjumlah lima
sampai tujuh buah.
o Bagian rumah adat Batak berupa tiang
biasanya dekat dengan pintu. Tiang ini memepunyai bentuk yang bulat panjang,
yang dimaksudkan untuk menyangga bagian atas atau lantai dua.
o Balok digunakan untuk menghubungkan
semua tiang yang disebut juga dengan rassang. Balok bentuknya lebih tebal
daripada papan Balok ini bisa menyatukan tiang-tiang depan, belakang, samping
kanan dan kiri rumah, dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku).
o Terdapat pintu di kolong rumah untuk
jalan masuk kerbau supaya bisa masuk ke dalam kolong.
o Rumah adat suku Batak mempunyai atap
rumah yang terbuat dari ijuk. Ijuk ini terdiri atas 3 lapisan. Tuham-tuham
merupakan lapisan pertama, sedangkan lapisan kedua disebut lalubak dan kemudian
dilanjutkan dengan lapisan ketiga.

Gambar
7 : Rancangan rumah adat suku batak
o
Tangga
rumah adat suku Batak ada dua macam, yaitu:
- Pertama
adalah tangga jantan (balatuk tunggal). Tangga jantan terbuat dari beberapa
potongan pohon. Jenis pohon yang bisa dijadikan tangga tidak sembarang. Pohon
ini biasanya disebut sibagure, merupakan jenis pohon yang mempunyai batang
kuat.
- Kedua disebut tangga
betina (balatuk boru-boru). Jenis tangga ini merupakan paduan beberapa potong
kayu yang keras dan biasanya terdiri atas anak tangga dengan hitungan yang
ganjil.
5)
Ciri Khas Rumah Adat Suku Batak
Ada beberapa ciri khas yang dapat dijumpai pada
rumah adat suku Batak. Diantaranya adalah:
© Bentuk
bangunan merupakan perpaduan dari tiga macam hasil seni, yaitu seni pahat, seni
ukir, serta hasil seni kerajinan.
© Bentuk
rumah adat dari suku Batak pada umumnya melambangkan “Kerbau berdiri tegak
© Menghias
bagian atap dengan tanduk kerbau.
© Bangunan
dibuat berdasarkan musyawarah dan saran-saran dari para orang tua.
Macam – Macam Bentuk
Rumah Adat Suku Batak
a.
Batak Toba
Rumah Batak Toba memberikan kesan
kokoh karena konstruksi tiang-tiangnya terbuat dari kayu gelondongan. Dulu
ketika sering terjadi pertikaian antarsuku, rumah-rumah selalu dikelompokkan
sebagai benteng di atas bukit. Lingkungannya dikelilingi pohon sebagai pagar
yang cukup rapat.

Gambar 8 : Rumah adat Batak Toba
b.
Batak Karo
Rumah
Batak Karo merupakan tipe rumah pegunugan. Pintu depannya dihadapkan ke arah
hulu dan pintu belakangnya ke arah muara. Bentuk atap rumah kepala marga
berbeda dengan bentuk rumah-rumah lainnya. Umumnya, denah rumah Batak Karo
direncanakan untuk keluarga jamak yang dihuni rata-rata delapan keluarga batih.

Gambar 9 : rumah adat batak Karo(siwaluh jabu)
c.
Batak Pakpak

Gambar 10 : rumah adat batak Pakpak
d.
Batak Simalungun
Bentuk
atap rumah Batak Simalungun kadang-kadang tidak simetris. Makhota atapnya
menghadap ke empat arah mata angin dan ujung atapnya dihiasi dengan hiasan yang
berbentuk kepala kerbau.

Gambar 11 : rumah adat
batak Simalungun
e.
Batak Angkola

Gambar
12 : rumah adat batak Angkola
f.
Batak Mandaling

Gambar 13 : rumah adat
batak Mandailing (bagas godang)
6)
Senjata Tradisional
Tunggal
Panaluan adalah senjata tradisional bagi suku bangsa Batak Toba. Senjata ini
sebenarnya adalah wujud tongkat berukir dan pangkalnya berwujud kepala manusia
lengkap dengan rambutnya yang terbuat dari bulu kuda.

Gambar 14 : Senjata
tradisional suku batak
7)
Upacara
Upacara dalam masyarakat Sumatra Utara,
khususnya bagi masyarakat Batak adalah merupakan upacara religius dan sakral.
Contoh upacara adat Suku Batak:
ü Upacara
Masa Kehamilan
ü Upacara
Kelahiran
ü Upacara
Martutuaek

Gambar 15 : Upacara Martutuaek
ü Upacara
Mangebang
ü Upacara
Khitanan
ü Upacara
Kematian
ü Upacara
Mangokal Holi
4. Sistem
IPTEK
Sistem
teknologi dalam orang Batak Toba cukup unik dengan adanya rumah batak yang
menjadi arsitektur kebanggaan mereka. Ruma Batak ini dibangun dari bahan-bahan
alami seperti ijuk, kayu, dan batu. Terdapat pengaturan hierarki ruang dalam
ruma batak ini menurut kepentingan ruang dan penamaannya berdasarkan jenis
ruangan tersebut.
Selain
itu juga terdapat hirarki pembentukan sebuah kampung atau huta yang dimulai
dari kelompok terkecil yaitu klan keluarga, huta, kemudian bius sebagai
kelompok yang terbesar. Orang Batak memiliki kegemaran dan keahlian
mengukir sejak lama.
Hal
ini dapat dilihat dari beberapa contoh bentuk peninggalan perhiasan yang
ditemukan oleh para ahli. Material yang diukir adalah kayu dan juga logam.
Perhiasan tersebut biasanya digunakan oleh para tetua atau keluarga pemimpin.
Peninggalan
perhiasan seperti ini juga dapat menunjukkan tingginya kemampuan teknologi yang
telah berkembang pada masa itu. Selain perhiasan, masyarakat orang Batak juga
menggunakan ukiran dari kayu yang disebut sebagai Gorga. Masing-masing gorga
memiliki nama dan makna tersendiri serta bentuk yang khas. Penggunaan gorga ini
mengikuti aturan-aturan tertentu yang telah ada sejak lama. Aturan tersebut
menyangkut ketepatan pemaknaan dan penggunaan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Hingga sekarang orang Batak juga masih tetap menekuni kegemaran
mengukir seperti ini namun jumlah peminat dan yang memiliki keahlian untuk
mengukir sudah sangat terbatas jumlahnya.
5. Organisasi
Masyarakat
a.
Falsafah Dan Sistem Kemasyarakatan
Ada falsafah dalam perumpamaan dalam
bahasa Batak Toba yang berbunyi : jonok dongan partubu jonokan do dongan
parhundul, merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik
dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat,
yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga
tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan adat.
Masyarakat Batak memiliki falsafah,
azas sekaligus struktur dan system dalam kemasyarakatannya yakni yang dalam
bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu.
Berikut penyebutan Dalihan na Tolu
dalam enam puak Batak.
v Dalihan
Na Tolu (Toba) : somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru.
v Dalian
Na Tolu (Mandailing dan Angkola) : hormat Marmora, manat markahanggi dan elek
maranak boru.
v Tolu
Sahundulan (Simalungun) : martondong ningon hormat sombah, marsanina ningon
pakkei manat dan marboru ningon elek pakkei.
v Rakut
Sitelu (Karo) : nembah man kalimbubu, mehamat man sembuyak dan nami-nami man
anak beru.
v Daliken
Sitelu (Pakpak) : sembah merkula-kula, manat merdengan tubuh dan elek marberru.
v Hula-hula
atau mora : adalah pihak keluarga dari istri. Hula-hula ini menempati posisi
yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub suku
Batak) sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada
Hula-hula (Somba Marhula-hula).
v Dongan
tubu atau hahanggi : disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu
marga. Arti harfiahnya lahir dari satu perut yang sama. Mereka ini seperti
batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena terlalu
dekatnya kadang-kadang saling bergesekan. Namun, pertikaian tidak membuat
hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan
pisau, kendati dibelah tetap bersatu. Namun kemudian kepada semua orang Batak
(berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan
Manat Mardongan Tubu.
v Boru
atau anak boru : adalah pihak keluarga yang mengambil istri dari suatu marga
(keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai parhobas atau
pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap
upacara adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa
diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya,
dibujuk, diistilahkan Elek Marboru.
Namun
bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan
Dalihan Na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua
masyarakat Batak pasti pernah menjadi hula-hula, juga sebagai dongan tubu juga
sebagai boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.
Sehingga
dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berprilaku raja. Raja dalam
tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang
berprilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka
dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut raja ni hula-hula, raja ni dongan
tubu dohot raja ni boru.
b.
Sistem politik
Secara
umum, kepemimpinan pada masyarakat Batak terbagi dalam tiga bidang, yaitu
kepemimpinan adat, pemerintah, dan agama. Kepemimpinan dalam bidang adat
meliputi persoalan perkawinan, perceraian, kematian, warisan, penyelesaian
perselisihan, kelahiran anak, dan sebagainya. Kepemimpinan di bidang adat tidak
berada dalam tangan seorang tokoh, tetapi merupakan suatu musyawarah dari
sangkep sitelu.
Kepemimpinan
di bidang pemerintahan dipegang oleh salah satu dari turunan tertua merga
taneh. Kepala huta disebut penghulu, kepala urungdisebut raja urung dan sibayak
untuk bagian kerajaan. Kedudukan tersebut merupakan jabatan turun-temurun dan
yang berhak adalah anak laki-laki tertua (situa) atau si bungsu (sinuda).
Anak-anak yang lain (sitengah) tidak mempunyai hak menjadi pemimpin. Selain
menjalankan pemerintaha, mereka juga menjalankan tugas peradilan, yaitu
penghulu mengetuai sidang di balehuta dan raja urung. Pengadilan teretinggi
adalah bale raja berompat yang merupakan sidang kelima sibayak yang ada di
Karo.
Masyarakat
Karo tidak mengenal pimpinan keagamaan asli karena konsepsi tentang kekuatan
gaib dan kepercayaan lain tidak seragam. Namun, pada suku bangsa Batak yang menganut
agama islam, tokoh dalam agam islam (para mualim) sangat besar peranan
dan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat. Jabatan ini tidak turun-temurun,
seperti dukun guru sibaso yang menjadi dukun karena pengalaman tertentu.
Demikian pula pemilihan pendeta dan ulama, mereka dipilih karena pengetahuan
agama, pengabdian, dan keteladanannya.
6. Sistem
mata pencaharian
Sebagian
besar masyarakat Batak Toba saat ini bermatapencaharian sebagai petani,
peladang, nelayan, pegawai, wiraswasta dan pejabat pemerintahan. Dalam
berwiraswasta bidang usaha yang banyak dikelola oleh masyarakat adalah usaha
kerajinan tangan seperti usaha penenunan ulos, ukiran kayu, dan ukiran logam.
Saat ini sudah cukup banyak juga yang memulai merambah ke bidang usaha jasa.
Masyarakat tradisional Batak Toba bercocok tanam padi di sawah dan juga
mengolah ladang secara berpindah-pindah. Pengelolaan tanaman padi di sawah
banyak terdapat di daerah selatan Danau Toba.
Hal
ini disebabkan oleh daerah tersebut adalah dataran yang landai dan terbuka
sehingga memungkinkan untuk bercocok tanam padi di sawah. Sedangkan ladang
banyak terdapat di daerah utara (Karo, Simalungun, Pakpak, dan Dairi). Kawasan
ini berhutan lebat dan tertutup serta berupa dataran tinggi yang sejik sehingga
mengakibatkan lahan ini lebih memungkinkan untuk pengolahan ladang. Jika anda
mendengar daerah Karo sebagai peghasil sayuran dan buah yang potensial, ini
adalah salah satu dampak positif yang dihasilkan oleh keberadaan bentuk lahan
tersebut.
Sebelum
teknologi pengolahan pangan mencapai daerah tano Batak, hasil pengolahan
tanaman padi di sawah hanya dapat menghasilkan panen satu kali dalam satu
tahun. Hal ini disebabkan oleh pengolahan tanah yang tidak begitu baik, irigasi
yang terbatas dan juga tanpa penanganan tanaman yang terampil. Demikian halnya
dengan hasil pengolahan tanaman di ladang, hanya dapat menghasilkan panen satu
hingga dua kali saja lalu kemudaian lahan tidak dapat digunakan lagi. Kemudian
ladang tersebut akan ditinggalkan dan berpindah ke ladang yang baru. Dahulu
kala,pembukaan ladang yang baru dimulai dengan pemilihan lahan melalui ritual
bersama seorang datu (dukun) yang disebut parma-mang. Lahan yang biasanya
dijadikan ladang adalah lahan yang tidak ditempati atau kawasan hutan alami
yang belum dijamah oleh manusia. Kemudian lahan tersebut dibersihkan dengan
cara dibakar. Upacara selanjutnya adalah memberikan sesaji kepada penunggu
lahan agar tidak mengganggu pengolah ladang dan juga sekaligus sebagai upacara
pemilihan hari baik untuk mulai menanam. Selama musim pembukaan lahan ini,
masyarakat kampung dilarang untuk keluar-masuk kampung. Hal ini dilakukan untuk
menghindari mala petaka dan bahaya yang mungkin terjadi karena penunggu lahan
yang merasa terusik. Sekarang keberadaan datu ini sudah tidak menjadi
dominan lagi, akan tetapi kebiasaan membuka lahan baru ini masih tetap
ada. Tanaman yang sering ditanam di ladang ini adalah tebu, tanaman obat,
ubi, sayu-sayuran dan mentimun.
Demikian
juga pohon aren yang sengaja ditanam di tengah ladang untuk menghasilkan tuak,
sejenis minuman beralkohol, yang menjadi kesukaan masyarakat Batak. Ada pula
beberapa komoditi unggulan yang menjadi kelebihan suatu daerah. Seperti hasil
panen utama dari daerah Simalungun dan Mandailing adalah jagung dan ubi kayu,
serta beragam sayuran. Dari daerah Pakpak yang menjadi komoditi unggulannya
adalah kemenyan dan kapur barus. Bayangkan betapa kayanya tano Batak ini.
Saat
ini masyarakat Batak sudah banyak yang mengolah padi hibrida di sawah mereka,
tentunya orang Batak tidak mau ketinggalan dari yang lainnya. Satu kemajuan ini
bagi orang Batak. Beralih kepada masa pengaruh perkembangan ekonomi terhadap
pertanian di tanah Batak. Pengaruh perkembangan perekonomian tersebut mulai
terlihat ketika penjajah memasuki daerah Tano Toba. Produksi tanaman padi dan
hasil ladang meningkat pesat. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan
pangan untuk para pekerja kuli yang datang memasuki daerah Tano Toba. Pekerja
kuli ini didatangkan dari semenanjung Malasya (mayoritas china) dan juga daerah
Jawa, karena masyarakat lokal tidak bersedia menjadi pekerja untuk penjajah.
Pada tahun-tahun pertama masa pendudukan penjajahan, pejabat kolonial telah
membangun sistem transportasi yang menggunakan tenaga para pekerja kuli
tersebut.
Untuk mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi di sawah, pejabat
kolonial menyediakan lahan yang akan diolah untuk menanam padi dan juga
memperbaiki saluran irigasi. Beberapa tahun kemudian dilaksanakan percobaan
penanaman tanaman yang berasal dari Eropa seperti kentang dan kol di daerah
dataran tinggi Karo. Masyarakat menyambut baik usaha ini. Hasil produk
pertanian yang ada dapat diekspor hingga ke luar negeri(Penang dan Singapura).
Sejumlah besar petani kecil di daerah bercocok tanam padi di sawah dan ladang.
Tapanuli kemudian juga turut mencoba mengelola jenis tanaman yang sama. Selain
tanaman sayuran, diadakan juga percobaan penanaman tanaman perkebunan yang
menjadi cikal bakal pengembangan kawasan perkebunan di Tano Toba. Pada umumnya
masyarakat Batak telah mengenal dan mempergunakan alat-alat sederhana yang
dipergunakan untuk bercocok tanam dalam kehidupannya. Seperti cangkul, bajak
(tenggala dalam bahasa Karo), tongkat tunggal (engkol dalam bahasa Karo), sabit
(sabi-sabi) atau ani-ani.
Lahan didapat dari pembagian yang didasarkan marga. Setiap keluarga mendapat
tanah tadi , tetapi tidak boleh menjualnya. Selain tanah ulayat adapaun tanah
yang dimiliki perseorangan. Peternakan juga salah satu mata pencaharian suku
Batak antara lain peternakan kerbau, sapi, babi, kambing, ayam, dan bebek.
Penangkapan ikan dilakukan sebagian penduduk disekitar danau Toba. Sektor
kerajinan yang berkembang. Misalnya tenun, anyaman rotan, ukiran kayu,
tembikar, yang ada kaitannya dengan pariwisata.
7. Ilmu
pengetahuan
Orang Batak juga mengenal sistem
gotong-royong kuno dalam hal bercocok tanam. Dalam bahasa Karo aktivitas itu
disebut Raron, sedangkan dalam bahasa Toba hal itu disebut Marsiurupan.
Sekelompok orang tetangga atau kerabat dekat bersama-sama mengerjakan tanah dan
masing-masing anggota secara bergiliran. Raron itu merupakan satu pranata yang
keanggotaannya sangat sukarela dan lamanya berdiri tergantung kepada
persetujuan pesertanya.
8.
Masakan Suku batak
Masakan adat Batak jenis masakan yang
dipengaruhi seni suku batak, dan termasuk masakan Nusantara. Yang paling sering
digunakan dalam memasak sebuah pesta adalah andaliman (merica batak). Bahkan di
tradisi orang batak banyak menggunakan Babi ataupun daging Anjing, yang dimasak
sesuai selera masing masing dan juga menggunakan makanan yang berasal dari
danau, sepert ikan ikanan yaitu hasil pancingan para nelayan, mereka memasaknya
biasanya disebut (napinadar, dipanggang, atau ikan arsik).
Jenis makanan Batak yang dapat dijumpai dan dikenal
oleh masyarakat umumnya adalah:
a.
Saksang
Saksang adalah masakan
khas Batak yang terbuat dari daging babi, daging anjing, atau kerbau yang
dicincang dan dibumbui dengan rempah-rempah dan santan, serta dimasak baik
dengan menggunakan darah maupun tidak menggunakan darah.

Gambar 15 : Masakan khas suku batak Saksang
b.
Arsik
Arsik adalah daging atau ikan yang diberi bumbu
kunyit, asam, cabe dan andaliman ditambah bumbu-bumbu umum lainnya. Dalam
kehidupan adat batak, arsik memiliki filosofi-filosofi tertentu sesuai dengan
jenis pesta adat yang tengah diadakan.

Gambar 16 : ikan arsik
c.
Ayam tasak telu
Tasak Telu merupakan masakah khas Karo lainnya yang
berarti “masak tiga” atau “tiga masakan” yang terdiri dari masakan ayam rebus
yang dicampur dengan berbagai bumbu. Air rebusannya disisihkan dan disajikan
sebagai kuah atau sup. Ayam rebusnya yang termasuk jeroannya dipotong-potong
untuk disajikan. Bila dikehendaki, ayam rebus ini dapat dimasak lagi sebentar
dengan darah ayam. Dalam bahasa setempat, darah disebut dengan istilah “getah”
Bagian tulang-tulangnya dimasak lagi dengan sebagian kuah dan
dicampur dengan cipera. Dengan tambahan bumbu-bumbu, campuran ini menjadi kuah
kental yang gurih. Kuah kental ini – sebagai elemen kedua dari sajian ayam
tasak telu – nanti diguyurkan pada ayam rebus ketika menyantapnya. Elemen
ketiganya adalah cincang sayur. Berbagai sayur rebus – kacang panjang, batang
pisang, jantung pisang, daun pepaya, daun singkong, tauge – diurap dengan
parutan kelapa berbumbu

Gambar 17 : Tasak telu
d. Manuk
Napinadar
Manuk
Napinadar atau Ayam Napinadar adalah masakan khas Batak yang biasanya
dihidangkan pada pesta adat tertentu. Dalam memasak Ayam Napinadar ini, ayamnya
harus dipanggang terlebih dahulu, setelah itu lalu disiram dengan saos spesial
yakni darah ayam (manuk) itu sendiri, dan dicampur dengan andaliman, bawang
putih bubuk (yang sudah digiling sampai halus) lalu dimasak. Sama seperti kita
menuangkan saos ke atas ayam yang sudah dipanggang.

Gambar 18 : Manuk Napinadar
e. Tangotanggo
f. Dengke Mas
naniura
g. Natinombur
h. Mie Gomak
i.
Na nidugu
j.
Dali ni horbo
Dali Ni Horbo
adalah susu kerbau yang diolah secara tradisional. Sama ini mengandung lemak,
karbohidrat dan protein perbedaannya bahwa susu ini diolah tanpa mengandung
bahan kimia. Proses membuat dali ni horbo ini tidak terlalu sulit. Susu kerbau
cair dimasak pada api dengan suhu kecil sehingga tidak terlalu panas.

Gambar 18 : Dali ni horbo
l. Sambal
tuktuk
BAB III
PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Adat
adalah bagian dari pada kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau
suku bangsa maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi
perhatian, atau dengan kata lain bahwa adat lah yang menonjol didalam
mempelajari atau mengetahui kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain
tidak kalah penting nya seperti kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan
lain-lain.
Di
Indonesia terdapat banyak suku yang beragam dan memiliki keunikan/ kekhasan
yang dimiliki oleh suku-suku masing-masing, salah satunya adalah suku Batak. Suku
Batak adalah nama sebuah suku bangsa di Indonesia yang kebanyakan bermukim di
Sumatra Utara Daerah Sumatra Utara. Suku batak memiliki unsur-unsur kebudayaan
seperti religi, sistem bahasa, adat istiadat dan kesinian, sistem IPTEK,
organisasi masyarakat, sistem mata pencaharian, dan ilmu pengetahuan, serta
masakan khas suku Batak.
2.
SARAN
Kebudayaan
yang dimiliki suku Batak ini menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki oleh
bangsa Indonesia yang perlu tetap dijaga kelestariannya. Dengan membuat makalah
suku Batak ini diharapkan dapat lebih mengetahui lebih jauh mengenai kebudayaan
suku Batak tersebut dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan yang pada
kelanjutannya dapat bermanfaat dalam dunia kependidikan.
DAFTAR PUSTAKA
http://wiwidodo.blogspot.co.id/2014/01/makalah-suku-batak.html
http://tradisionalindonesiafood.blogspot.co.id/2016/03/manuk-napinadar-sumatera-utara.html
https://www.google.co.id/search?biw=1366&bih=672&tbm=isch&sa=1&q=tari+tor+tor+batak&oq=tari+tor+t&gs_l=psy-
https://www.google.co.id/search?q=tangga+jantan+(balatuk+tunggal)&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjVq9-
https://www.google.co.id/search?biw=1366&bih=672&tbm=isch&sa=1&q=rumah+adat+batak+Toba&oq=rumah+adat+batak+Toba&gs_l=psy-
https://www.google.co.id/search?biw=1366&bih=672&tbm=isch&sa=1&q=rumah+adat+batak+karo&oq=rumah+adat+batak+kar&gs_l=psy-
https://www.google.co.id/search?biw=1366&bih=672&tbm=isch&sa=1&q=rumah+adat+batak+Pakpak&oq=rumah+adat+batak+Pakpak&gs_l=psy-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar