DIET PENYAKIT SALURAN CERNA BAWAH
·
Diet penyakit radang usus
Radang ileum dan
usus besar ditandai dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen,
berat badan berkurang, nafsu makan berkurang, demam, dan kemungkinan adanya
lemak dalam feses. Penyakit ini dapat berupa kolitis ulseratif dan chrons
disease. Hindari makanan yang mengandung sisa yang banyak seperti susu dan
makanan yang tinggi serat serta makanan yang menimbulkan gas. Dianjurkan untuk
mengkonsumsi makanan yang mengandung rendah serat dalam bentuk makanan lunak
serta suplementasi vitamin dan mineral antara lain vitamin A,C,D, asam folat,
vitamin B12, kalsium, zat besi, magnesium, dan seng.
·
Diet Penyakit Divertikular
Penyakit
divertikular terdiri atas penyakit divertikulosis dan divertikulitis. Penyakit
divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding
kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi
kronik. Hal ini terutama terjadi pada usia lanjut yang makanannya rendah serat.
Diet yang harus dilalukan adalah meningkatkan asupan serat penderita dan
hindari makanan yang mengandung rendah serat seperti makanan junkfood. Penyakit
divertikulosis ini terjadi bila penumpukan sisa makanan pada kolon yang
menyebabkan peradangan. Gejala-gejalanya antara lain kram pada bagian kiri
bawah perut, mual, kembung, muntah, konstipasi atau diare, menggigil dan demam.
Hindari makanan yang mengandung sisa yang tinggi dalam saluran pencernaan
seperti susu dan dianjurkan untuk minum 8 gelas sehari.Sumber : Buku penuntun diet edisi baru
B.
DIET PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PADA USUS HALUS DAN USUS BESAR
Penyakit usus adalah peradangan
terutama pada ileum dan usus besar dengan gejala diare, disertai darah, lender,
nyeri abdomen, berat badan berkurang, nafsu makan berkurang, demam, dan
kemungkinan terjadi steatorea (adanya lemak daam feses).
Serat makanan adalah
polisakarida non pati yang terdapat daam semua makanan nabati. Serat tidak
dapat dicerna oleh enzim cerna tapi berpengaruh baik untuk kesehatan. Serat
terdiri atas dua golongan, yaitu serat larut air dan serat tidak arut air.
Serat yang tidak larut air Adalah
beras, gandum, sayuran, dan buah-buahan. Serat ini dapat mencegah obstisipasi
hemoroid dan hipertikulosis.
Serat yang larut air, kacang-kacangan, sayur, dan buah-buahan sehingga
dapat menurunkan absorbs lemak dan kolesterol darah.
Tujuan diet penyakit usus
1.
Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
2.
Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.
C.
DIET SALURAN
CERNA
Diet saluran cerna berarti diet yang dilakukan saat terjadi gangguan pada
saluran pencernaan. Ada pun gangguan saluran pencernaan itu meliputi
flatulensi, diare, gastrities dan tipoid.
a)
Flatulensi
Flatulensi (perut kembung) adalah meningkatnya jumlah gas dalam saluran
pencernaan. Flatulensi disebabkan adanya udara (gas) yang ikut masuk dalam
saluran pencernaan.
Flatulensi biasanya menyebabkan nyeri perut, kembung, sendawa dan banyak
kentut. Tetapi hubungan antara flatulensi dan beberapa gejala ini tidak
diketahui. Beberapa orang tampaknya peka terhadap pengaruh gas dalam saluran
pencernaan, sedangkan yang lainnya bisa mentolerir sejumlah besar gas tanpa
menimbulkan gajala-gejala.
Seseorang yang sering bersendawa atau mengeluarkan gas secara berlebihan harus
mengubah pola makannya dengan menghindari makanan yang sulit dicerna. Hal ini
bisa dimulai dengan menghindari susu dan produk olahannya, kemudian buah segar,
sayuran tertentu dan makanan lainnya. Sendawa juga bisa disebabkan oleh minuman
bersoda atau antasid (misalnya baking soda) sehingga patut diminimalisir
konsumsi air bersoda jika terjadi flatulensi.
b)
Diare
Diare merupakan feses terlalu cair yang dikeluarkan oleh tubuh akibat penyerapan
zat-zat makanan yang tidak sempurna dalam saluran pencernaan. Diare disebabkan
oleh beberapa faktor:
1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai
penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria,
dll.
4. Pemanis buatan
Saat terjadi diare, diet yang dapat dilakkukan adalah pengaturan makanan secara
umum yaitu dengan pemenuhan cairan yang cukup. Suhu makanan yang hangat, bentuk
makanan lunak, bumbu tidak merangsang, sayuran dan buah tidak menimbulkan gas.
Dalam diet saat diae, hindari makan makanan yang berserat seperti agar-agar,
sayur dan buah karena makanan berserat hanya akan memperpanjang masa diare.
Makanan berserat hanya baik untuk penderita susah buang air besar.
c)
Gastrities
Gastrities adalah peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang
berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan
iritan lain (Reeves,2002).
Diet pada penderita gastritis adalah diet lambung. Prinsip diet pada penyakit
lambung bersifat ad libitum, yang artinya adalah bahwa diet lambung
dilaksanakan berdasarkan kehendak pasien.
Makanan pada diet lambung harus mudah dicernakan dan mengandung serat makanan
yang halus (soluble dietary fiber). Makanan tidak boleh mengandung bahan yang
merangsang, menimbulkan gas, bersifat asam, mengandung minyak/ lemak secara
berlebihan, dan yang bersifat melekat. Selain itu, makanan tidak boleh terlalu
panas atau dingin.
Beberapa makanan yang berpotensi menyebabkan gastritis antara lain garam,
alkohol, rokok, kafein yang dapat ditemukan dalam kopi, teh hitam, teh hijau,
beberapa minuman ringan (soft drinks), dan coklat.
d)
Tipoid (Tipes)
Penyebab dari demam tifoid adalah kuman Salmonella paratyphi yang masuk ke
tubuh manusia melalui makanan. Sebagian kuman dimusnahkan di dalam lambung,
sebagian lagi lolos masuk ke dalam usus dan berkembang biak. Kuman kemudian
akan menembus epitel dan ke lamina propia. Di lamina propia, kuman akan
dofagositosis dan berkembang biak dalam makrofag. Perdarahan saluran cerna
dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar plague peyeri yang
mengalami nekrosis.
Terjadi problem gizi bagi penderita tipus/gejala tipus karena otot kehilangan
protein sebanyak 250-500 gram dari jaringan otot setiap harinya. Cadangan
glikogen secara cepat menipis dan keseimbangan cairan terganggu.
Penyerapan nutrisi mengalami gangguan akibat traktus gastrointestinal mengalami
inflamasi/iritasi/diare dalam jangka waktu lama.Luka pada intestinum yang parah
pada sakit yang berkepanjangan dapat menyebabkan pendarahan bahkan perforasi
usus.
Diet untuk penderita tipoid adalah dilakukan beberapa pantangan konsumsi
makanan. Makanan yang dianjurkan adalah:
1. Jus, sup, makanan berkuah atau air mineral lebih
dari 2,5 liter perhari.
2. Susu atau produk-produk turunannya.
3. Makanan dengan nilai protein tinggi, seperti: telur,
daging yang sudah dihaluskan, ikan, unggas, keju, dll.
4. Makan halus dengan kadar gula tinggi, seperti: madu,
selai, permen/gula, agar-agar, cincau, kolang-kaling, nata de coco, rumput
laut, dll.
5. Makanan yang mengandung serat rendah, buah-buahan
matang, kentang, dll agar motilitas usus berkurang. Sayuran dengan serat
halus/soluble dietary fibre, seperti: daun bayam, labu siam, lobak, pare,
terong, wortel, dll.
Sedangkan
makanan yang tidak dianjurkan adalah sebagai berikut:
1. Makanan yang memiliki rasa kuat, seperti: bawang
putih, bawang merah, makanan yang dibakar.
2. Makanan yang mengandung senyawa yang mengiritasi,
seperti: bumbu yang terlalu tajam, cabai, sambal/saus pedas, cuka, dll.
3. Makanan yang melekat: dodol, ketan, dll.
4. Makanan yang menimbulkan gas: nangka, durian, nanas,
kembang kol, dll.
5. Makanan yang mengandung serat tinggi/non-soluble
dietary fibre: kangkung, batang bayam, daun pepaya, ketela, biji-bijian utuh
(jagung, beras merah, meras tumbuk, dll).
6. Pasien tipus/gejala tipus tidak harus makan bubur.
Sebenarnya bubur tidak terlalu baik untuk pasien mengingat kalori dalam bubur
hanya 1/5 kalori nasi.
Faktor
Seseorang Melakukan Diet
Ada beberapa alasan seseorang
melakukan diet, berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang
melakukan diet:
1.
Kadar Lemak Tinggi
Apabila kadar lemak seseorang
tinggi, maka diperlukan suatu program diet untuk menurunkan berat tubuh supaya
tidak terjadi obesitas. Lemak merupakan zat gizi yang akan disimpan di dalam
kulit sebagai cadangan energi, jika lemak tertimbun banyak, bisa terjadi
peningkatan masa tubuh, proses metabolisme pun akan cenderung lebih berat
dilakukan oleh tubuh.
2.
Hasrat Diri
Diet kadang memiliki tujuan dari
pribadi untuk meningkatkan atau menurunkan masa tubuh supaya sesuai dengan
rentang normal IMT (Indeks Massa Tubuh). Hasrat diri untuk melakukan diet ini
biasanya dilakukan oleh model atau artis untuk menjaga bentuk tubuhnya.
3.
Tekanan Darah
Jika tekanan darah terlalu tinggi
(hipertensi), harus ada pantangan-pantangan untuk makanan tertentu supaya
tekanan kembali menjadi normal.
4.
Pola Makan
Diet juga dipengaruhi oleh pola
makan, jika seseorang memiliki pola makan tidak teratur, seseorang tersebut
akan berusaha kembali mengatur pola makannya dengan cara melakukan diet.
5.
Gangguan Penyakit
Seseorang yang terkena gangguan
seperti pada saluran cerna, diabetes dan lainnya akan melakukan diet untuk
menjaga asupan nutrisi agar tidak memperparah gangguan tersebut.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Diet
a)
Jenis Kelamin
Perilaku diet
menjadi lebih umum diantara anak perempuan ketimbang laki-laki. Berdasarkan
hasil penelitian Vereecken dan Maes ( dalam Papalia, 2008 ), pada usia 15
tahun, lebih dari setengah remaja perempuan di enam belas negara melakukan diet
atau berpikir mereka harus melakukan hal tersebut karena pada umumnya perempuan
memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibanding laki-laki.
b)
Status Berat Badan
Dwyer (1997)
mengatakan bahwa orang yang memiliki berat badan lebih, lebih perhatian
terhadap berat badan daripada orang yang lebih ringan.
c)
Kelas Sosial
Perilaku diet dan
perhatian terhadap berat badan cenderung terjadi pada orang yang kelas
sosialnya tinggi daripada yang rendah (Dwyer, 1997).
Dampak
Perilaku Diet
Menurut Hawks (2008),
perilaku diet dapat menimbulkan dampak bagi seseorang, yaitu:
a) Dampak Biologis
Peneliti mengatakan bahwa diet akan meningkatkan level sistemik cortisol.
Cortisol merupakan pertanda dari timbulnya stres, yang merupakan prediktor
terhadap level rasa lapar dan hal ini merupakan faktor yang berisiko terhadap
timbulnya tulang yang rapuh.
b) Dampak Psikologis
Individu yang melakukan diet biasanya akan lebih depresi dan emosional daripada
individu yang tidak diet, dan akan mengalami kecemasan, serta kurangnya
penyesuaian diri yang baik pada area sosialisasi, kematangan, tanggung jawab,
dan struktur nilai intra personal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Notadmodjo,
Soekidjo. (2007). Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta. Jakarta.
2. Beck, Mary E.
2011. Ilmu Gizi dan Diet – Hubungannya Dengan Penyakit – penyakit untuk Perawat
dan Dokter. Jakarta: Andi Publisher
3. Agustina, Elza.
2011. 100% Buku Pintar Diet Sehat, Diet Obesitas, dan Diet Kesehatan. Jakarta:
Gramedia
Diet
Penyakit Saluran Cerna Bawah
Diet
Penyakit Usus Inflamatorik (Inflammatory Bowel Disease)
Penyakit
usus inflamatorik adalah peradangan terutama pada ileum dan usus besar dengan
gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat badan berkurang,
demam dan kemungkinan terjadi streatorea (adanya lemak dalam feses). Penyakit
ini dapat berupa Kolitis Ulseratif dan Chron’s Disease.
Tujuan diet
penyakit inflamatorik adalah:
(1)
Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
(2)
Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.
(3)
Mencegah iritasi dan inflamasi lebih lanjut.
(4)
Mengistirahatkan usus pada masa akut.
Syarat-syarat
diet penyakit usus inflamatorik adalah:
(1)
Pada feses akut dipuasakan dan diberi makanan secara parenteral saja.
(2)
Bila fase akut teratasi, pasien diberi makanan secara bertahap, mulai dari
bentuk cair (peroral maupun enteral), kemudian meningkat menjadi siet sisa
rendah dan serat rendah.
(3)
Bila gejal ahilang dapat diberikan makanan biasa.
(4)
Kebutuhan gizi, tyaitu :
(a)
Energi dan protein tinggi.
(b)
Suplemen vitamin dan mineral antara lain vitamin A, C, D asm folat, vitamin B12,
kalsium, zat besi, magnesium dan seng.
(5)
Makanan enteral rendah atau bebas laktosa dan mengandung asam lemak rantai
sedang (medium chain trygliceride = MTC) dapat diberikan karena sering terjadi
intoleransi laktosa dan malabsorpsi lemak.
(6)
Cukup cairan dan elektrolit.
(7)
Menghindari makanan yang mengandung gas.
(8)
Sisa rendah dan secara bertahap kembali ke makanan biasa
Diet
Penyakit Divertikular
Penyakit
divertikular terdiri atas penyakit Divertikulosis dan Divertikulitis. Penyakit
Divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding
kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi
kronik. Hal ini terutama terjadi pada usia lanjut yang makanannya rendah serat.
Penyakit Divertikulitis terjadi bila penumpukan sisa makanan pada divertikular menyebabkan
peradangan. Gejala-gjalanya antar alain kram pada bagian kiri bawah perut,
mual, kembung, muntah, konstipase atau diare, menggigil dan demam.
Tujuan Diet
Penyakit Divertikulosis
(1)
Meningkatkan volume dan konsistensi fees.
(2)
Menurunkan tekanan intra luminal.
(3)
Mencegah infeksi.
Syarat-syarat
Diet Penyakit Divertikulosis
(1)
Kebutuhan energi dan zat-zat gizi normal.
(2)
Cairan tinggi, yaitu 2-2,5 liter sehari.
(3)
Serat tinggi.
Tujuan Diet
Penyakit Divertikulitis
(1)
Mengistirahatkan usus untuk mencegah perforasi.
(2)
Mencegah akibat laksatif dari makanan berserat tinggi.
Syarat-syarat
Diet Penyakit Divertikulitis
(1)
Mengusahakan asupan energi dan zat-zat gizi cukup sesuai dengan batasan diet
yang ditetapkan.
(2)
Bila ada pendarahan, dimuali dengan makanan cair jernih.
(3)
Makanan diberikan secara bertahap, dimulai dari diet sisa rendah I kediet sisa
rendah II dengan konsistensi yang sesuai.
(4)
Hindari makanan yang abanyak mengandung biji-biji kecil, seperti tomat, jambu
biji dan stroberi yang dapat menumpuk dalam divertikular.
(5)
Bila perlu diberi makanan enteral rendah atau bebas laktosa.
(6)
Untuk mencegah konstipasi, minum minimal 8 gelas sehari.
2.5
Pencegahan Gangguan Traktus Gastrointestinal
Sayur dan
buah memegang peranan yang penting dalam tubuh manusia. Karena itu, orang yang
sering mengonsumsi keduanya, khususnya kaum vegetarian, memiliki prevalensi
terkena penyakit lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak suka mengonsumsi
sayur dan buah.
Sayur
merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral. Juga mengandung zat yang bukan
gizi tapi sangat dibutuhkan bagi kesehatan tubuh manusia. Karena itu,
mengonsumsi sayur dan buah sangat penting. Dengan rajin mengonsumsi sayur dan
buah, buang air besar (BAB) menjadi lancar. Serat yang terdapat di dalam
keduanya bisa mendorong tinja untuk keluar. Karena itu, anak atau orang dewasa
yang kurang mengonsumsi buah dan sayur biasanya akan mengalami kesulitan dalam
buang air besar.
Daftar
Pustaka
- Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru Cetakan kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
- http://www.f-buzz.com/2008/08/12/gangguan-saluran-pencernaan-dan-pengaruh-dari-faktor-psikologis/
- Sumber: http://www.republika.co.id (Dikutip tgl 2 Mei 2006)
- http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1146649854,75536,
- J. Corwin, Elizabeth. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tinggalkan komentar