Jumat, 16 November 2018

DIET PENYAKIT SALURAN CERNA BAWAH


DIET PENYAKIT SALURAN CERNA BAWAH

·         Diet penyakit radang usus
Radang ileum dan usus besar ditandai dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat badan berkurang, nafsu makan berkurang, demam, dan kemungkinan adanya lemak dalam feses. Penyakit ini dapat berupa kolitis ulseratif dan chrons disease. Hindari makanan yang mengandung sisa yang banyak seperti susu dan makanan yang tinggi serat serta makanan yang menimbulkan gas. Dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung rendah serat dalam bentuk makanan lunak serta suplementasi vitamin dan mineral antara lain vitamin A,C,D, asam folat, vitamin B12, kalsium, zat besi, magnesium, dan seng.
·         Diet Penyakit Divertikular
Penyakit divertikular terdiri atas penyakit divertikulosis dan divertikulitis. Penyakit divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi kronik. Hal ini terutama terjadi pada usia lanjut yang makanannya rendah serat. Diet yang harus dilalukan adalah meningkatkan asupan serat penderita dan hindari makanan yang mengandung rendah serat seperti makanan junkfood. Penyakit divertikulosis ini terjadi bila penumpukan sisa makanan pada kolon yang menyebabkan peradangan. Gejala-gejalanya antara lain kram pada bagian kiri bawah perut, mual, kembung, muntah, konstipasi atau diare, menggigil dan demam. Hindari makanan yang mengandung sisa yang tinggi dalam saluran pencernaan seperti susu dan dianjurkan untuk minum 8 gelas sehari.
Sumber : Buku penuntun diet edisi baru

B.     DIET PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT PADA USUS HALUS DAN USUS BESAR           
       Penyakit usus adalah peradangan terutama pada ileum dan usus besar dengan gejala diare, disertai darah, lender, nyeri abdomen, berat badan berkurang, nafsu makan berkurang, demam, dan kemungkinan terjadi steatorea (adanya lemak daam feses).
       Serat makanan adalah polisakarida non pati yang terdapat daam semua makanan nabati. Serat tidak dapat dicerna oleh enzim cerna tapi berpengaruh baik untuk kesehatan. Serat terdiri atas dua golongan, yaitu serat larut air dan serat tidak arut air. Serat yang tidak larut air Adalah      beras, gandum, sayuran, dan buah-buahan. Serat ini dapat mencegah obstisipasi hemoroid dan hipertikulosis.
Serat yang larut air, kacang-kacangan, sayur, dan buah-buahan sehingga dapat menurunkan absorbs lemak dan kolesterol darah.
Tujuan diet penyakit usus
1.      Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
2.      Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.
C.    DIET SALURAN CERNA
            Diet saluran cerna berarti diet yang dilakukan saat terjadi gangguan pada saluran pencernaan. Ada pun gangguan saluran pencernaan itu meliputi flatulensi, diare, gastrities dan tipoid.

a)    Flatulensi
       Flatulensi (perut kembung) adalah meningkatnya jumlah gas dalam saluran pencernaan. Flatulensi disebabkan adanya udara (gas) yang ikut masuk dalam saluran pencernaan.
       Flatulensi biasanya menyebabkan nyeri perut, kembung, sendawa dan banyak kentut. Tetapi hubungan antara flatulensi dan beberapa gejala ini tidak diketahui. Beberapa orang tampaknya peka terhadap pengaruh gas dalam saluran pencernaan, sedangkan yang lainnya bisa mentolerir sejumlah besar gas tanpa menimbulkan gajala-gejala.
       Seseorang yang sering bersendawa atau mengeluarkan gas secara berlebihan harus mengubah pola makannya dengan menghindari makanan yang sulit dicerna. Hal ini bisa dimulai dengan menghindari susu dan produk olahannya, kemudian buah segar, sayuran tertentu dan makanan lainnya. Sendawa juga bisa disebabkan oleh minuman bersoda atau antasid (misalnya baking soda) sehingga patut diminimalisir konsumsi air bersoda jika terjadi flatulensi.

b)   Diare
       Diare merupakan feses terlalu cair yang dikeluarkan oleh tubuh akibat penyerapan zat-zat makanan yang tidak sempurna dalam saluran pencernaan. Diare disebabkan oleh beberapa faktor:
1.    Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
2.    Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
3.    Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
4.    Pemanis buatan
       Saat terjadi diare, diet yang dapat dilakkukan adalah pengaturan makanan secara umum yaitu dengan pemenuhan cairan yang cukup. Suhu makanan yang hangat, bentuk makanan lunak, bumbu tidak merangsang, sayuran dan buah tidak menimbulkan gas.
       Dalam diet saat diae, hindari makan makanan yang berserat seperti agar-agar, sayur dan buah karena makanan berserat hanya akan memperpanjang masa diare. Makanan berserat hanya baik untuk penderita susah buang air besar.
c)    Gastrities
       Gastrities adalah peradangan lokal atau menyebar pada mukosa lambung yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain (Reeves,2002).
       Diet pada penderita gastritis adalah diet lambung. Prinsip diet pada penyakit lambung bersifat ad libitum, yang artinya adalah bahwa diet lambung dilaksanakan berdasarkan kehendak pasien.
       Makanan pada diet lambung harus mudah dicernakan dan mengandung serat makanan yang halus (soluble dietary fiber). Makanan tidak boleh mengandung bahan yang merangsang, menimbulkan gas, bersifat asam, mengandung minyak/ lemak secara berlebihan, dan yang bersifat melekat. Selain itu, makanan tidak boleh terlalu panas atau dingin.
       Beberapa makanan yang berpotensi menyebabkan gastritis antara lain garam, alkohol, rokok, kafein yang dapat ditemukan dalam kopi, teh hitam, teh hijau, beberapa minuman ringan (soft drinks), dan coklat.
d)   Tipoid (Tipes)
       Penyebab dari demam tifoid adalah kuman Salmonella paratyphi yang masuk ke tubuh manusia melalui makanan. Sebagian kuman dimusnahkan di dalam lambung, sebagian lagi lolos masuk ke dalam usus dan berkembang biak. Kuman kemudian akan menembus epitel dan ke lamina propia. Di lamina propia, kuman akan dofagositosis dan berkembang biak dalam makrofag. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar plague peyeri  yang mengalami nekrosis.
       Terjadi problem gizi bagi penderita tipus/gejala tipus karena otot kehilangan protein sebanyak 250-500 gram dari jaringan otot setiap harinya. Cadangan glikogen secara cepat menipis dan keseimbangan cairan terganggu.
       Penyerapan nutrisi mengalami gangguan akibat traktus gastrointestinal mengalami inflamasi/iritasi/diare dalam jangka waktu lama.Luka pada intestinum yang parah pada sakit yang berkepanjangan dapat menyebabkan pendarahan bahkan perforasi usus.

       Diet untuk penderita tipoid adalah dilakukan beberapa pantangan konsumsi makanan. Makanan yang dianjurkan adalah:
1.    Jus, sup, makanan berkuah atau air mineral lebih dari 2,5 liter perhari.
2.    Susu atau produk-produk turunannya.
3.    Makanan dengan nilai protein tinggi, seperti: telur, daging yang sudah dihaluskan, ikan, unggas, keju, dll.
4.    Makan halus dengan kadar gula tinggi, seperti: madu, selai, permen/gula, agar-agar, cincau, kolang-kaling, nata de coco, rumput laut, dll.
5.    Makanan yang mengandung serat rendah, buah-buahan matang, kentang, dll agar motilitas usus berkurang. Sayuran dengan serat halus/soluble dietary fibre, seperti: daun bayam, labu siam, lobak, pare, terong, wortel, dll.
Sedangkan makanan yang tidak dianjurkan adalah sebagai berikut:
1.    Makanan yang memiliki rasa kuat, seperti: bawang putih, bawang merah, makanan yang dibakar.
2.    Makanan yang mengandung senyawa yang mengiritasi, seperti: bumbu yang terlalu tajam, cabai, sambal/saus pedas, cuka, dll.
3.    Makanan yang melekat: dodol, ketan, dll.
4.    Makanan yang menimbulkan gas: nangka, durian, nanas, kembang kol, dll.
5.    Makanan yang mengandung serat tinggi/non-soluble dietary fibre: kangkung, batang bayam, daun pepaya, ketela, biji-bijian utuh (jagung, beras merah, meras tumbuk, dll).
6.    Pasien tipus/gejala tipus tidak harus makan bubur. Sebenarnya bubur tidak terlalu baik untuk pasien mengingat kalori dalam bubur hanya 1/5 kalori nasi.

Faktor Seseorang Melakukan Diet
Ada beberapa alasan seseorang melakukan diet, berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan diet:
1.    Kadar Lemak Tinggi
Apabila kadar lemak seseorang tinggi, maka diperlukan suatu program diet untuk menurunkan berat tubuh supaya tidak terjadi obesitas. Lemak merupakan zat gizi yang akan disimpan di dalam kulit sebagai cadangan energi, jika lemak tertimbun banyak, bisa terjadi peningkatan masa tubuh, proses metabolisme pun akan cenderung lebih berat dilakukan oleh tubuh.
2.    Hasrat Diri
Diet kadang memiliki tujuan dari pribadi untuk meningkatkan atau menurunkan masa tubuh supaya sesuai dengan rentang normal IMT (Indeks Massa Tubuh). Hasrat diri untuk melakukan diet ini biasanya dilakukan oleh model atau artis untuk menjaga bentuk tubuhnya.
3.    Tekanan Darah
Jika tekanan darah terlalu tinggi (hipertensi), harus ada pantangan-pantangan untuk makanan tertentu supaya tekanan kembali menjadi normal.
4.    Pola Makan
Diet juga dipengaruhi oleh pola makan, jika seseorang memiliki pola makan tidak teratur, seseorang tersebut akan berusaha kembali mengatur pola makannya dengan cara melakukan diet.
5.    Gangguan Penyakit
Seseorang yang terkena gangguan seperti pada saluran cerna, diabetes dan lainnya akan melakukan diet untuk menjaga asupan nutrisi agar tidak memperparah gangguan tersebut.



Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Diet
a)    Jenis Kelamin
       Perilaku diet menjadi lebih umum diantara anak perempuan ketimbang laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian Vereecken dan Maes ( dalam Papalia, 2008 ), pada usia 15 tahun, lebih dari setengah remaja perempuan di enam belas negara melakukan diet atau berpikir mereka harus melakukan hal tersebut karena pada umumnya perempuan memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibanding laki-laki.
b)   Status Berat Badan
       Dwyer (1997) mengatakan bahwa orang yang memiliki berat badan lebih, lebih perhatian terhadap berat badan daripada orang yang lebih ringan.
c)    Kelas Sosial
       Perilaku diet dan perhatian terhadap berat badan cenderung terjadi pada orang yang kelas sosialnya tinggi daripada yang rendah (Dwyer, 1997).


Dampak Perilaku Diet
Menurut Hawks (2008), perilaku diet dapat menimbulkan dampak bagi seseorang, yaitu:
a)    Dampak Biologis
       Peneliti mengatakan bahwa diet akan meningkatkan level sistemik cortisol. Cortisol merupakan pertanda dari timbulnya stres, yang merupakan prediktor terhadap level rasa lapar dan hal ini merupakan faktor yang berisiko terhadap timbulnya tulang yang rapuh.

b)   Dampak Psikologis
       Individu yang melakukan diet biasanya akan lebih depresi dan emosional daripada individu yang tidak diet, dan akan mengalami kecemasan, serta kurangnya penyesuaian diri yang baik pada area sosialisasi, kematangan, tanggung jawab, dan struktur nilai intra personal.
DAFTAR PUSTAKA

1.    Notadmodjo, Soekidjo. (2007). Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta. Jakarta.
2.    Beck, Mary E. 2011. Ilmu Gizi dan Diet – Hubungannya Dengan Penyakit – penyakit untuk Perawat dan Dokter. Jakarta: Andi Publisher
3.    Agustina, Elza. 2011. 100% Buku Pintar Diet Sehat, Diet Obesitas, dan Diet Kesehatan. Jakarta: Gramedia

  Diet Penyakit Saluran Cerna Bawah
Diet Penyakit Usus Inflamatorik (Inflammatory Bowel Disease)
        Penyakit usus inflamatorik adalah peradangan terutama pada ileum dan usus besar dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat badan berkurang, demam dan kemungkinan terjadi streatorea (adanya lemak dalam feses). Penyakit ini dapat berupa Kolitis Ulseratif dan Chron’s Disease.
Tujuan diet penyakit inflamatorik adalah:
(1)   Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
(2)   Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.
(3)   Mencegah iritasi dan inflamasi lebih lanjut.
(4)   Mengistirahatkan usus pada masa akut.
Syarat-syarat diet penyakit usus inflamatorik adalah:
(1)      Pada feses akut dipuasakan dan diberi makanan secara parenteral saja.
(2)      Bila fase akut teratasi, pasien diberi makanan secara bertahap, mulai dari bentuk cair (peroral maupun enteral), kemudian meningkat menjadi siet sisa rendah dan serat rendah.
(3)      Bila gejal ahilang dapat diberikan makanan biasa.
(4)      Kebutuhan gizi, tyaitu :
(a)    Energi dan protein tinggi.
(b)   Suplemen vitamin dan mineral antara lain vitamin A, C, D asm folat, vitamin B12,  kalsium, zat besi, magnesium dan seng.
(5)   Makanan enteral rendah atau bebas laktosa dan mengandung asam lemak rantai sedang (medium chain trygliceride = MTC) dapat diberikan karena sering terjadi intoleransi laktosa dan malabsorpsi lemak.
(6)   Cukup cairan dan elektrolit.
(7)   Menghindari makanan yang mengandung gas.
(8)   Sisa rendah dan secara bertahap kembali ke makanan biasa
Diet Penyakit Divertikular
                        Penyakit divertikular terdiri atas penyakit Divertikulosis dan Divertikulitis. Penyakit Divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi kronik. Hal ini terutama terjadi pada usia lanjut yang makanannya rendah serat. Penyakit Divertikulitis terjadi bila penumpukan sisa makanan pada divertikular menyebabkan peradangan. Gejala-gjalanya antar alain kram pada bagian kiri bawah perut, mual, kembung, muntah, konstipase atau diare, menggigil dan demam.
Tujuan Diet Penyakit Divertikulosis
(1)   Meningkatkan volume dan konsistensi fees.
(2)   Menurunkan tekanan intra luminal.
(3)   Mencegah infeksi.
Syarat-syarat Diet Penyakit Divertikulosis
(1)      Kebutuhan energi dan zat-zat gizi normal.
(2)      Cairan tinggi, yaitu 2-2,5 liter sehari.
(3)      Serat tinggi.
Tujuan Diet Penyakit Divertikulitis
(1)   Mengistirahatkan usus untuk mencegah perforasi.
(2)   Mencegah akibat laksatif dari makanan berserat tinggi.
Syarat-syarat Diet Penyakit Divertikulitis
(1)   Mengusahakan asupan energi dan zat-zat gizi cukup sesuai dengan batasan diet yang ditetapkan.
(2)   Bila ada pendarahan, dimuali dengan makanan cair jernih.
(3)   Makanan diberikan secara bertahap, dimulai dari diet sisa rendah I kediet sisa rendah II dengan konsistensi yang sesuai.
(4)   Hindari makanan yang abanyak mengandung biji-biji kecil, seperti tomat, jambu biji dan stroberi yang dapat menumpuk dalam divertikular.
(5)   Bila perlu diberi makanan enteral rendah atau bebas laktosa.
(6)   Untuk mencegah konstipasi, minum minimal 8 gelas sehari.
2.5    Pencegahan Gangguan Traktus Gastrointestinal
Sayur dan buah memegang peranan yang penting dalam tubuh manusia. Karena itu, orang yang sering mengonsumsi keduanya, khususnya kaum vegetarian, memiliki prevalensi terkena penyakit lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak suka mengonsumsi sayur dan buah.
Sayur merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral. Juga mengandung zat yang bukan gizi tapi sangat dibutuhkan bagi kesehatan tubuh manusia. Karena itu, mengonsumsi sayur dan buah sangat penting. Dengan rajin mengonsumsi sayur dan buah, buang air besar (BAB) menjadi lancar. Serat yang terdapat di dalam keduanya bisa mendorong tinja untuk keluar. Karena itu, anak atau orang dewasa yang kurang mengonsumsi buah dan sayur biasanya akan mengalami kesulitan dalam buang air besar.

Daftar Pustaka 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar